Site icon Media KotaKita

Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau: Hujan Abu Selimuti Lampung, Puluhan Penerbangan Terganggu

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terus meningkat memicu terjadinya hujan abu vulkanik cukup tebal di sejumlah wilayah Provinsi Lampung. Fenomena alam yang berlangsung sejak Sabtu sore hingga malam hari ini memaksa warga membatasi aktivitas di luar rumah akibat penurunan kualitas udara dan jarak pandang yang memburuk.

Sebaran abu vulkanik berwarna hitam halus terpantau menyelimuti area pemukiman di Kabupaten Lampung Selatan, Kota Bandar Lampung, Pesawaran, Pringsewu, hingga wilayah Lampung Barat. Pergeseran arah angin diduga kuat menjadi faktor utama yang membawa material vulkanik ini meluncur hingga jarak yang cukup jauh dari pusat erupsi.

Dampak kesehatan langsung dirasakan oleh masyarakat setempat. Banyak warga mengeluhkan mata perih seperti kemasukan pasir, tenggorokan gatal, hingga sesak napas. Bau belerang yang menyengat juga mulai tercium di beberapa kecamatan di Lampung Selatan, seperti Sidomulyo dan Kalianda. Kondisi ini membuat para pengendara sepeda motor harus ekstra waspada karena jalanan menjadi licin dan jarak pandang yang terbatas.

Menanggapi situasi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung segera mengeluarkan imbauan keselamatan. Warga diminta untuk selalu mengenakan masker dan kacamata saat terpaksa beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, masyarakat diimbau menutup rapat ventilasi rumah serta mengamankan sumber air bersih agar terhindar dari kontaminasi zat asam vulkanik yang berbahaya bagi tubuh.

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari warga di Lampung, melainkan juga mengganggu sektor transportasi udara. Sedikitnya puluhan jadwal penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat mengalami gangguan demi menjaga keselamatan penerbangan dari risiko kerusakan mesin akibat partikel abu vulkanik. Pihak otoritas kini menetapkan radius aman 3 kilometer dari kawah aktif dan meminta masyarakat tetap tenang sambil memantau rilis resmi dari Badan Geologi.

Exit mobile version