Erupsi Gunung Anak Krakatau yang kembali aktif kini membawa dampak nyata bagi wilayah sekitarnya, termasuk Kota Tangerang. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang secara resmi mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman sebaran abu vulkanik. Debu vulkanik yang terbawa embusan angin dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas udara dan memicu gangguan kesehatan serius pada sistem pernapasan warga.
Kepala Dinkes Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, menjelaskan bahwa partikel mikro dalam abu vulkanik memiliki sifat yang tajam dan abrasif. Jika terhirup, partikel ini dapat langsung mengiritasi saluran pernapasan dan memicu gejala seperti batuk kering, tenggorokan gatal, hidung berair, hingga sesak napas akut. Tidak hanya paru-paru, paparan abu ini juga berisiko tinggi menyebabkan iritasi mata merah serta gatal-gatal pada kulit luar.
Guna meminimalisasi dampak buruk tersebut, masyarakat disarankan untuk melakukan langkah pencegahan mandiri. Mengurangi aktivitas di luar ruangan dan selalu mengenakan masker yang memiliki filtrasi baik saat keluar rumah adalah langkah proteksi utama yang sangat dianjurkan. Selain itu, menutup rapat ventilasi rumah saat terjadi hujan abu juga dapat mencegah partikel halus masuk ke dalam tempat tinggal.
Kewaspadaan ekstra harus diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia (lansia), serta individu yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Kelompok ini dinilai paling cepat mengalami penurunan kondisi fisik jika terpapar udara berkualitas buruk akibat material vulkanik.
Meskipun situasi ini memerlukan perhatian khusus, dr. Dini mengimbau agar masyarakat Tangerang tidak panik dan tetap menyaring informasi dari sumber resmi. Pemerintah Kota Tangerang juga memastikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) dan Puskesmas di wilayah tersebut tetap siaga penuh untuk memberikan penanganan medis secara cepat bagi warga yang mengalami keluhan kesehatan terkait paparan abu vulkanik.

