Site icon Media KotaKita

Korban Keracunan Makan Bergizi Gratis di Toraja Tembus 173 Siswa, Dapur Penyedia Resmi Ditutup Sementara

Kasus dugaan keracunan massal yang bersumber dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, terus meluas. Hingga Jumat malam, jumlah siswa yang mengalami gejala gangguan pencernaan dilaporkan melonjak drastis hingga mencapai 173 orang. Para korban kini tengah menjalani perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan setempat.

Sekretaris Daerah Tana Toraja sekaligus Ketua Satgas MBG, Rudy Andi Lolo, mengonfirmasi bahwa mayoritas korban dilarikan ke tiga rumah sakit besar, yakni RSUD Lakipadada, RSGK Toraja, dan RS Fatima. Sementara itu, sebagian korban lainnya mendapatkan penanganan di beberapa puskesmas terdekat seperti Puskesmas Rembon, Batusura, dan Makale. Sebagian besar siswa menjalani rawat jalan, namun belasan di antaranya terpaksa harus dirawat inap karena kondisi fisik yang melemah.

Menanggapi insiden serius ini, pemerintah daerah langsung mengambil langkah tegas. Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batupapan 01 Makale, yang bertanggung jawab memasok makanan untuk siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale, resmi dihentikan operasionalnya untuk sementara waktu. Keputusan pembekuan izin ini diambil berdasarkan hasil rapat dengar pendapat antara DPRD Tana Toraja, Satgas MBG, dan instansi terkait.

Langkah preventif ini berdampak cukup besar mengingat dapur umum tersebut melayani sedikitnya 2.210 penerima manfaat yang tersebar di sejumlah sekolah anak usia dini (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga posyandu. Saat ini, pemerintah daerah masih menunggu hasil uji laboratorium dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan penyebab pasti kontaminasi makanan tersebut.

Di tingkat nasional, kasus ini memicu reaksi keras dari Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Pria yang akrab disapa Zulhas ini menegaskan tidak akan menoleransi kelalaian dalam pelaksanaan program prioritas nasional tersebut. Ia mengancam akan memecat petugas atau pengelola dapur yang terbukti tidak bertanggung jawab dan mengabaikan standar higienitas pangan.

Zulhas menyoroti pentingnya manajemen waktu pendistribusian makanan. Menurutnya, jeda waktu antara proses memasak di pagi hari dan konsumsi oleh siswa tidak boleh terlalu lama agar kualitas makanan tetap terjaga. Jika terbukti ada kesengajaan atau kelalaian yang fatal, tindakan tegas berupa pemecatan hingga sanksi hukum akan segera dijatuhkan.

Exit mobile version