Site icon Media KotaKita

Evaluasi Program MBG: Ponpes di Sidoarjo Dorong Pengelolaan Mandiri Usai Insiden Keracunan Massal

Insiden kesehatan kembali menjadi sorotan dalam pelaksanaan program penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 748 santri dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam serta murid dari 19 sekolah di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo, dilaporkan mengalami gejala keracunan massal seperti mual, muntah, dan pusing usai mengonsumsi menu MBG pada awal September lalu.

Menanggapi peristiwa memprihatinkan tersebut, Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam, KH Abdul Wahid Harun (Gus Wahid), menyampaikan gagasan kritis agar penyaluran makanan bernutrisi tersebut dapat dikelola secara swakelola atau mandiri oleh pihak pesantren. Menurutnya, langkah ini penting dilakukan guna memastikan kualitas, kesegaran, serta keamanan pangan bagi ribuan santri tetap terjaga dengan maksimal.

Gus Wahid menegaskan bahwa usulan ini bukanlah bentuk penolakan terhadap program prioritas pemerintah pusat tersebut. Sebaliknya, hal ini merupakan bentuk dorongan konstruktif demi perbaikan sistem penyaluran agar risiko kontaminasi akibat jeda waktu pengiriman dari penyedia luar dapat ditekan secara signifikan.

“Programnya sangat bagus dan kami mendukung penuh. Namun, sistem penyalurannya yang perlu disempurnakan. Jika makanan dimasak di tempat yang jauh lalu dikirim untuk ribuan porsi, ada rentang waktu yang riskan. Kalau dikelola mandiri, porsinya terukur, dimasak langsung, dan bisa segera dikonsumsi,” ungkap Gus Wahid.

Konsep pengelolaan mandiri yang ditawarkan terinspirasi dari model tata kelola di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Dalam skema ini, dana operasional disalurkan langsung ke lembaga pendidikan, sementara proses memasak hingga penyajian dieksekusi oleh pihak internal. Bahkan, pihak pesantren berencana merangkul para alumni dan warga sekitar dalam rantai operasionalnya demi memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.

Gus Wahid mengaku telah mendiskusikan gagasan ini dengan jajaran staf khusus kepresidenan dan utusan Istana, yang dikabarkan menyambut baik usulan efisiensi tersebut. Diharapkan, insiden di Sidoarjo ini menjadi momentum evaluasi nasional dalam pembenahan standar operasional prosedur (SOP) katering MBG agar kejadian serupa tidak terulang di wilayah lain.

Berdasarkan data terkini dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dari ratusan korban yang terdampak, mayoritas santri kini telah pulih dan menjalani rawat jalan, sementara sebagian kecil sisanya sempat mendapatkan perawatan medis intensif di rumah sakit setempat.

Exit mobile version