Site icon Media KotaKita

Kabut Asap Karhutla Kalbar Masih Pekat, Menhut: Penurunan Hotspot Bukan Jaminan

Kondisi kabut asap akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) kini memasuki fase yang kian mengkhawatirkan. Meskipun data satelit menunjukkan adanya penurunan jumlah titik panas (hotspot), kenyataan yang dirasakan warga di lapangan justru memperlihatkan pemandangan yang sangat kontras. Selimut asap tebal masih pekat mengepung berbagai wilayah, memicu ancaman polusi udara yang serius bagi kesehatan masyarakat setempat.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan bahwa situasi lingkungan di Kalimantan Barat saat ini sedang tidak baik-baik saja. Setelah melakukan peninjauan langsung ke salah satu titik lokasi karhutla yang membara di Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, ia memberikan peringatan keras bahwa penurunan angka hotspot di layar monitor tidak boleh membuat semua pihak lengah.

“Saya ingin menyampaikan bahwa kondisi Kalbar sedang dalam situasi yang tidak baik-baik saja. Angka titik panas memang menurun dibandingkan hari sebelumnya, tetapi intensitas asap yang dihasilkan masih sangat, sangat tidak sehat,” ungkap Raja Juli dalam pernyataan resminya.

Berdasarkan data dari sistem pemantauan Sipongi milik Kementerian Kehutanan, fluktuasi sebaran hotspot di wilayah Kalbar sempat menunjukkan grafik naik-turun yang ekstrem. Pada tanggal 31 Agustus tercatat ada 272 titik panas, jumlah ini kemudian melonjak tajam menjadi 859 titik pada 1 September, dan berhasil ditekan kembali hingga menyusut ke angka 268 titik pada 2 September.

Kendati demikian, Raja Juli memaparkan fakta krusial bahwa penurunan hotspot tidak otomatis menyelesaikan masalah polusi udara. Pada lahan gambut yang mendominasi wilayah Kalbar, api yang tampak padam di permukaan sering kali menyisakan bara membara di bawah tanah. Bara tersembunyi inilah yang terus memproduksi kepulan asap pekat, meskipun sensor satelit tidak lagi mendeteksinya sebagai hotspot aktif.

Untuk meredam dampak buruk kabut asap yang kini juga mulai mengganggu wilayah Pontianak, fokus penanganan di lapangan kini dialihkan ke program pendinginan (wetting) secara masif. Langkah ini sangat krusial untuk memastikan sisa-sisa bara di dalam tanah benar-benar padam sepenuhnya.

Saat ini, tim gabungan yang terdiri dari personel Manggala Agni Kementerian Kehutanan, jajaran TNI, Polri, hingga BPBD terus bersinergi di garis depan. Mereka berjibaku melakukan pemadaman darat dan pendinginan lahan gambut yang terbakar demi mengembalikan hak warga Kalimantan Barat untuk menghirup udara yang bersih dan sehat.

Exit mobile version