Aksi penyelamatan dramatis kembali terjadi di tengah kepungan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama tim gabungan berhasil mengevakuasi sepasang induk dan anak orangutan yang terjebak di atas pohon di kawasan Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kotawaringin Timur.
Penyelamatan ini bermula dari laporan jeli seorang anggota TNI, Husin, yang tengah melakukan patroli karhutla. Ia mendapati primata langka tersebut bertahan di sisa-sisa pohon di atas lahan gambut yang baru saja hangus terbakar. Mendapat laporan darurat tersebut, Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, langsung mengerahkan tim menuju lokasi untuk melakukan tindakan penyelamatan cepat.
Operasi penyelamatan yang berlangsung pada malam hari ini berjalan sangat menegangkan namun efisien. Hanya dalam waktu sekitar 47 menit, tim gabungan berhasil menurunkan kedua orangutan tersebut dengan aman dari atas pohon. Kecepatan tindakan ini sangat krusial mengingat lokasi sekitar masih dipenuhi sisa-sisa bara api dan asap pekat yang mengancam keselamatan satwa.
Setelah berhasil diamankan, kedua satwa dilindungi tersebut langsung menjalani pemeriksaan medis intensif oleh Dokter Hewan Ichlasul Khaerul dari Orangutan Foundation International (OFI). Induk orangutan yang diperkirakan berusia 20 tahun itu kemudian diberi nama Raya, sedangkan bayinya yang berusia satu tahun diberi nama Rayu, merujuk pada lokasi penyelamatan mereka.
Berdasarkan hasil observasi medis, kondisi kesehatan Raya dan Rayu dinyatakan relatif stabil dan baik. Meski sempat terpapar asap karhutla, keduanya tidak menunjukkan gejala klinis yang berat. Tim medis juga memastikan tidak ada luka bakar, cedera fisik, atau patah tulang pada tubuh kedua primata tersebut. Respons aktif dan perilaku defensif yang ditunjukkan keduanya menjadi indikator kuat bahwa mereka dalam kondisi prima.
Rencana selanjutnya, jika hasil pemantauan akhir menyatakan keduanya benar-benar sehat, BKSDA akan segera melakukan pelepasliaran. Ada dua opsi lokasi konservasi yang disiapkan sebagai rumah baru mereka, yaitu Taman Nasional Tanjung Puting atau Suaka Margasatwa Lamandau. Langkah ini diharapkan dapat memberikan ruang hidup yang lebih aman dan bebas dari ancaman karhutla bagi kelangsungan hidup Raya dan Rayu.

