Site icon Media KotaKita

Mengapa Harga Pertamax Naik Turun? Ini Penjelasan Kementerian ESDM Terkait Pasar Global

Fluktuasi harga minyak mentah dunia terus membayangi kebijakan energi domestik Indonesia. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, menegaskan bahwa penentuan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, seperti Pertamax, sepenuhnya mengacu pada mekanisme pasar internasional. Langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan antara biaya operasional penyediaan energi dan daya beli masyarakat.

Menurut Yuliot, PT Pertamina (Persero) memiliki formula khusus dalam menetapkan harga BBM nonsubsidi. Formula tersebut memperhitungkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) serta margin keuntungan yang wajar. Dengan mengacu pada rata-rata harga minyak mentah dunia, penyesuaian tarif menjadi hal yang tidak terhindarkan demi menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.

Per September 2026, Pertamina telah melakukan penyesuaian harga yang signifikan pada beberapa lini produk BBM nonsubsidi di wilayah Jabodetabek. Dexlite mengalami kenaikan dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter, sementara Pertamina Dex melonjak ke angka Rp25.200 per liter dari sebelumnya Rp21.150 per liter. Kenaikan juga menyasar Pertamax Turbo yang kini dibanderol Rp19.600 per liter dan Pertamax Green 95 yang naik menjadi Rp19.150 per liter. Menariknya, harga Pertamax tetap stabil di angka Rp15.950 per liter sejak awal Agustus 2026. Begitu pula dengan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar yang masing-masing bertahan di harga Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

Kenaikan harga BBM di dalam negeri ini beriringan dengan memanasnya geopolitik global yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Berdasarkan data perdagangan internasional terbaru, minyak mentah jenis Brent meroket hingga menembus angka 96,65 dolar AS per barel akibat meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga merangkak naik ke level 92,20 dolar AS per barel. Padahal, pada akhir Agustus lalu, harga Brent sempat melemah di kisaran 86,2 dolar AS per barel.

Dengan kondisi pasar global yang dinamis ini, masyarakat diharapkan dapat memahami urgensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau pergerakan harga minyak dunia guna memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga tanpa membebani sektor transportasi dan logistik domestik secara berlebihan.

Exit mobile version