Site icon Media KotaKita

Kasus Keracunan Makanan Bergizi Gratis Sidoarjo: Ratusan Santri Jadi Korban

Kasus keracunan massal menimpa ratusan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur. Kejadian ini diduga kuat bersumber dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka konsumsi. Tercatat sebanyak 431 santri mengalami gejala keracunan setelah menyantap hidangan yang disajikan pada siang hari.

Salah satu santriwati yang menjadi korban, berinisial SZ (15), menceritakan pengalamannya saat mengonsumsi menu tersebut. Pada Selasa siang, ia menyantap paket MBG yang berisi nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis dengan jagung muda (baby corn), serta buah apel. Namun, SZ merasakan ada keanehan pada hidangan sayur buncis yang disajikan.

“Sayurnya terasa asam atau kecut, jadi tidak saya habiskan,” ungkap SZ saat menjalani perawatan di RSUD RT Notopuro, Sidoarjo. Selang beberapa jam setelah makan, SZ mulai merasakan gejala fisik yang tidak menyenangkan seperti mual, pusing, hingga tubuh yang terasa sangat lemas.

Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam, Abdul Wahid Harun, menegaskan bahwa pihak pesantren hanya bertindak sebagai penerima manfaat. Penyediaan dan pengolahan makanan sepenuhnya dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin. Ia meluruskan informasi keliru yang menyebutkan dapur SPPG berada di area pesantren.

Menanggapi kepanikan publik, Ketua Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, dengan tegas membantah isu miring di media sosial yang menyebutkan adanya korban jiwa dalam insiden ini. Emil memastikan tidak ada korban meninggal dunia. Ia juga mengungkapkan bahwa dampak kasus ini meluas hingga ke 19 lembaga pendidikan di wilayah Tanggulangin, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA.

Langkah cepat diambil oleh Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur. Wakil Koordinator BGN Jatim, Teguh Bayu Wibowo, mengonfirmasi bahwa operasional SPPG Kalitengah telah dihentikan sementara demi kepentingan investigasi. Lembaga ini diketahui menyuplai sekitar 2.800 porsi makanan setiap harinya. Saat ini, sampel makanan yang dicurigai telah diamankan oleh Dinas Kesehatan Sidoarjo dan pihak kepolisian untuk dilakukan uji laboratorium guna mengungkap penyebab pasti keracunan massal ini.

Exit mobile version