Bayang-bayang trauma masa lalu kembali menyelimuti masyarakat di kawasan lereng Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Pasca peningkatan aktivitas vulkanik dan lontaran abu vulkanik tebal, ratusan warga Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, memilih untuk belum kembali ke kediaman mereka. Keinginan untuk bertahan di posko pengungsian didasari oleh kekhawatiran mendalam akan potensi terjadinya erupsi susulan yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan jiwa.
Saat ini, sedikitnya 490 jiwa telah dievakuasi secara sigap oleh Satuan Tugas (Satgas) Bencana setempat menuju lokasi penampungan sementara yang lebih aman di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran. Warga berbondong-bondong mengungsi dengan membawa perlengkapan logistik seadanya, mengutamakan keselamatan anggota keluarga di tengah ketidakpastian kondisi alam yang kian membahayakan.
Trauma Panjang Pengungsian Kembali Terulang
Kekhawatiran masyarakat bukan tanpa alasan kuat. Banyak dari warga yang memiliki rekam jejak trauma saat erupsi hebat terjadi pada dekade lalu. Salah satu warga terdampak, Roy Sembiring, menuturkan bagaimana pengalaman pahit pada letusan 2010 silam membuat keluarganya ekstra waspada. Pada masa itu, ia harus hidup berpindah-pindah lokasi pengungsian selama kurun waktu sepuluh tahun, hingga akhirnya baru bisa menetap kembali secara permanen pada tahun 2020.
Kini, bayangan skenario serupa kembali menyelimuti pikiran warga. Eva Br Sinulingga, warga terdampak lainnya, menyampaikan harapan besarnya agar aktivitas vulkanik gunung berapi tersebut segera mereda. Ia dan ratusan pengungsi lainnya sangat berharap Gunung Sinabung kembali tenang agar mereka tidak perlu lagi menjalani hidup bertahun-tahun di lokasi penampungan darurat.
Penyebab Peningkatan Status Gunung Sinabung
Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM telah resmi menetapkan kenaikan status kewaspadaan Gunung Sinabung. Langkah krusial ini diambil setelah gunung tersebut secara mendadak memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 3.500 meter dari atas puncak utama.
Selain semburan abu tebal, instrumen pemantau PVMBG juga merekam tingginya frekuensi gempa vulkanik yang terjadi secara beruntun dan berkelanjutan. Dinamika aktivitas kegempaan yang intensif ini memicu respons cepat dari otoritas terkait untuk mengosongkan zona bahaya guna meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa.

