Site icon Media KotaKita

Pilu Korban Gempa NTT: Rumah Hasil Merantau 10 Tahun Rata Tanah, Satu Keluarga Terpaksa Tinggal di Bekas Kandang Babi

Bencana gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan duka mendalam bagi para korban. Salah satu kisah memilukan datang dari Seriani Wati Mengo, warga Kampung Nara, Dusun Wancang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai. Rumah yang ia bangun dari hasil jerih payah merantau selama satu dekade kini rata dengan tanah, memaksa ia dan keluarganya bertahan hidup di bekas kandang babi.

Pasca-gempa, Seriani bersama suami, Siprianus Baeng, serta ketiga anak mereka sempat mengungsi ke posko darurat. Namun, kondisi posko yang berdebu, rawan terpapar hujan, dan kurang layak huni membuat mereka memilih kembali ke pekarangan rumah. Dengan memanfaatkan sisa bangunan yang ada, mereka terpaksa menyulap bekas kandang babi menjadi tempat berlindung seadanya demi menghindari cuaca buruk.

Kehilangan Rumah Hasil Keringat 10 Tahun

Bagi Seriani, rumah yang hancur tersebut bukan sekadar tempat berteduh biasa. Bangunan itu merupakan simbol perjuangan berat selama sepuluh tahun merantau di Kalimantan. Setiap rupiah disisihkan dengan harapan bisa memiliki hunian layak di kampung halaman. Sayangnya, impian yang dibangun bertahun-tahun tersebut musnah dalam hitungan detik akibat guncangan gempa.

Kini, kehidupan keluarga kecil ini kian terhimpit. Sebagai petani dan penenun, Seriani dan suaminya tidak lagi bisa beraktivitas normal untuk mencari nafkah. Di sisi lain, kebutuhan hidup terus berjalan. Stok beras bantuan yang mereka terima kini hanya tersisa tiga kilogram saja.

Masa Depan Pendidikan Anak Terancam

Selain masalah pangan, Seriani juga dirundung kecemasan mendalam mengenai kelanjutan pendidikan ketiga anaknya yang masih sekolah. Anak tertuanya kini duduk di bangku kelas 3 SMA, anak kedua kelas 2 SMP, dan si bungsu baru berusia enam tahun. Dengan kondisi ekonomi yang lumpuh total, biaya sekolah anak-anak mereka kini menjadi tanda tanya besar.

Keluarga ini sangat mengharapkan uluran tangan dari pemerintah maupun para donatur. Mereka membutuhkan bantuan logistik mendesak seperti bahan makanan, obat-obatan, air bersih, serta bantuan rekonstruksi untuk membangun kembali rumah mereka yang rusak berat agar layak dihuni kembali.

Exit mobile version