Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali memasuki fase kritis, khususnya di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan adanya lonjakan drastis jumlah titik panas (hotspot) di provinsi tersebut, yang memicu penurunan kualitas udara dan jarak pandang secara signifikan.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis BNPB, jumlah titik panas di Kalbar melonjak tajam sebanyak 3.553 titik, sehingga kini totalnya mencapai 7.377 titik. Sementara itu, titik api aktif tercatat berada di angka 72 titik. Kondisi ini membuat jarak pandang di beberapa wilayah Kalbar memburuk hingga kurang dari 1 kilometer akibat kepungan kabut asap yang tebal.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa situasi di Kalbar berbanding terbalik dengan Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) yang justru menunjukkan tren penurunan hotspot. Kalteng mencatat penurunan menjadi 5.244 titik, sedangkan Kalsel turun ke angka 504 titik. Kendati demikian, jarak pandang di kedua wilayah tersebut tetap terbatas, berkisar antara 1 hingga 2 kilometer.
Sementara itu, di Pulau Sumatra, pergerakan titik panas terpantau fluktuatif. Provinsi Sumatra Selatan mengalami lonjakan hotspot sebesar 209 titik, sehingga totalnya menjadi 1.013 titik. Sebaliknya, wilayah Riau dan Jambi menunjukkan perkembangan positif dengan penurunan jumlah titik panas yang cukup signifikan, yang diikuti dengan membaiknya jarak pandang hingga mencapai 4-7 kilometer.
Guna mengatasi krisis karhutla yang kian meluas, BNPB telah memperkuat operasi darat dan udara di enam provinsi prioritas. Sebanyak 53 armada udara dikerahkan untuk melakukan mitigasi cepat. Dari total armada tersebut, 19 unit difungsikan untuk patroli udara dan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), sedangkan 34 helikopter difokuskan penuh untuk melakukan pengeboman air (water bombing) langsung di titik api yang sulit dijangkau lewat jalur darat.

