Usai gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih, KH Abdul Hakim Mahfudz yang akrab disapa Gus Kikin, bergerak cepat untuk menyusun jajaran kepengurusan baru periode 2026-2031. Meski batas waktu maksimal yang diberikan kepada tim formatur adalah satu bulan, Gus Kikin optimistis penyusunan kabinet PBNU dapat dirampungkan lebih cepat dari target tersebut.
Langkah percepatan ini dinilai sangat mendesak agar PBNU dapat segera mengeksekusi berbagai program kerja strategis keumatan. Menurut Gus Kikin, pembentukan struktur kepengurusan yang solid merupakan fondasi awal yang wajib diselesaikan. Tanpa adanya kelengkapan personel dan kejelasan pembagian tugas, seluruh roda organisasi tidak akan bisa berjalan secara maksimal.
Proses penyusunan struktur ini melibatkan tim formatur dari berbagai representasi wilayah di Indonesia, mulai dari Papua Pegunungan, Maluku, NTB, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Sumatra, hingga Tuban. Kehadiran perwakilan daerah ini bertujuan untuk memastikan bahwa struktur baru PBNU dapat mencerminkan keberagaman dan aspirasi warga Nahdliyin dari Sabang sampai Merauke.
Menariknya, kepemimpinan baru ini mengusung semangat inklusivitas yang sangat kuat. Gus Kikin menegaskan komitmennya untuk merangkul seluruh elemen dan potensi terbaik di tubuh NU. Para tokoh potensial, termasuk mantan kandidat Ketua Umum seperti KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Sochib (Gus Salam), dan KH Abdul Ghofar Rozin, akan tetap diakomodasi untuk bersama-sama memajukan organisasi.
Dalam menjalankan roda kepemimpinan lima tahun ke depan, Gus Kikin berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang tertuang dalam Qanun Asasi. Dokumen dasar pemikiran NU tersebut menjadi panduan utama dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM), penguatan ekonomi organisasi, serta optimalisasi aset tanah dan sumber daya milik NU secara berkelanjutan dan terbuka.
Sebagaimana diketahui, duet KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 terpilih secara tenteram melalui mekanisme musyawarah mufakat oleh sembilan kiai sepuh yang tergabung dalam majelis Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

