Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus ucapan selamat atas terpilihnya jajaran kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026-2031. Momentum bersejarah ini terjadi dalam penutupan Muktamar ke-35 NU yang berlangsung khidmat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Dalam forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut, KH Abdul Hakim Mahfudz yang akrab disapa Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Sementara itu, posisi Rais Aam kembali diamanahkan kepada KH Miftahul Achyar. Duet kepemimpinan ini diharapkan mampu membawa arah baru yang positif bagi masa depan Nahdliyin.
Presiden Prabowo Subianto memuji jalannya Muktamar ke-35 NU yang dinilai berlangsung dengan sangat sejuk, rukun, dan penuh rasa kekeluargaan. Menurutnya, dinamika kompetisi yang sehat di tubuh NU patut menjadi teladan nasional. Meskipun melibatkan jutaan anggota, ribuan pesantren, dan puluhan ribu kiai, NU terbukti mampu merawat persatuan di tengah perbedaan pilihan.
“Saya mengucapkan selamat atas suksesnya Muktamar yang berjalan dengan guyub dan rukun. Seluruh elemen Nahdliyin telah memberikan contoh luar biasa bagi bangsa ini dalam menjaga harmoni dan demokrasi yang damai,” ujar Presiden Prabowo saat memberikan sambutan penutup.
Lebih lanjut, Kepala Negara menegaskan bahwa seluruh rakyat Indonesia kini menanti kontribusi nyata serta darma bakti dari kepengurusan baru PBNU dalam menjawab berbagai tantangan zaman, baik di bidang keagamaan, sosial, ekonomi, maupun kebangsaan.
Proses keterpilihan Gus Kikin terbilang sangat demokratis. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ini terpilih melalui mekanisme musyawarah mufakat setelah mendapatkan restu tertulis dari Rais Aam terpilih. Ia berhasil mengantongi dukungan mayoritas dengan 472 suara dalam Sidang Pleno V, mengungguli empat kandidat kuat lainnya.
Figur Gus Kikin sendiri dikenal luas sebagai sosok bersahaja yang meneruskan perjuangan almarhum KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Kepemimpinannya di PBNU ke depan diyakini akan memperkuat peran strategis NU sebagai pilar pemersatu bangsa dan benteng moderasi beragama di tanah air.

