Site icon Media KotaKita

Sejarah Baru PBNU: Metode AHWA Resmi Dipilih untuk Tentukan Ketua Umum Baru

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi memasuki babak baru dalam sistem kepemimpinannya. Pada Muktamar ke-35 yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, disepakati bahwa pemilihan Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 akan menggunakan metode Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Keputusan bersejarah ini diambil setelah melalui proses musyawarah yang dinamis dan pemungutan suara yang ketat.

Dengan diterapkannya sistem AHWA, nakhoda tanfidziyah PBNU tidak lagi dipilih secara langsung melalui voting terbuka antarpeserta, melainkan ditunjuk langsung oleh sebuah majelis yang berisikan sembilan kiai khos atau kiai sepuh. Langkah ini dinilai memperkuat tradisi kepemimpinan berbasis kearifan para ulama senior di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Keputusan krusial ini lahir dalam sidang pleno setelah opsi perubahan mekanisme memperoleh dukungan mayoritas mutlak. Dari total 552 suara sah yang masuk dari PWNU, PCNU, dan PCINU, opsi perubahan (sistem AHWA) meraih 401 suara. Sementara itu, opsi bertahan dengan sistem lama (musyawarah langsung atau voting) hanya mengantongi 150 suara, dengan satu suara dinyatakan tidak sah.

Pimpinan sidang yang juga Rais Syuriah PBNU, Mohammad Nuh, menegaskan bahwa hasil ini adalah realitas demokrasi khas NU yang harus dijunjung bersama. Beliau secara resmi mengetuk palu sidang pada dini hari sebagai tanda disahkannya mekanisme baru tersebut.

Bagaimana alur pemilihan dengan metode AHWA ini? KH M Asrorun Niam selaku Katib Syuriah PBNU menjelaskan bahwa prosesnya akan diawali dengan penjaringan usulan. Setiap pemilik suara (PWNU, PCNU, dan PCINU) diminta mengajukan maksimal lima nama calon ketua umum.

Dari usulan-usulan tersebut, panitia akan menyaring lima nama dengan perolehan suara teratas untuk diserahkan kepada sembilan kiai sepuh di dalam forum AHWA. Sebelum ditentukan oleh AHWA, kelima kandidat tersebut wajib menyatakan kesediaan mereka secara lisan maupun tertulis, serta mengantongi persetujuan tertulis dari Rais Aam terpilih. Langkah berlapis ini diharapkan mampu melahirkan pemimpin yang kredibel dan sejalan dengan visi spiritualitas NU.

Exit mobile version