Site icon Media KotaKita

Ironi Lansia Difabel di Jogja: Hidup Prasejahtera Tapi Masuk Kategori Warga Terkaya Desil 10

Sebuah ironi pahit menimpa Suwarno (70), seorang lanjut usia (lansia) penyandang disabilitas fisik asal Jogoyudan, Gowongan, Jetis, Kota Yogyakarta. Sudah setahun lebih dirinya tidak lagi menerima bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Penyebabnya sungguh di luar nalar: dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), Suwarno tercatat masuk dalam kelompok Desil 10, yang mengindikasikan tingkat kesejahteraan paling tinggi atau golongan warga sangat kaya.

Kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik. Suwarno hidup sebatang kara di sebuah rumah tua warisan keluarga yang cukup memprihatinkan di kawasan padat penduduk dekat Sungai Code. Istrinya telah tiada sejak 2010, dan anak-anaknya merantau ke luar kota. Untuk bertahan hidup, pria dengan kelainan tulang belakang ini hanya mengandalkan uang pensiun sebagai mantan pustakawan sebesar Rp900 ribu per bulan. Sebelumnya, ia sangat terbantu oleh dana Program Keluarga Harapan (PKH) sebesar Rp600 ribu per tiga bulan, namun bantuan tersebut mendadak dihentikan sejak April 2025.

Aparatur kelurahan dan kecamatan setempat pun mengaku kebingungan dan tidak mengetahui dasar penentuan status desil tinggi tersebut. Dengan pemasukan yang sangat minim, Suwarno kini harus berhemat ekstra keras hanya untuk bisa makan dan membayar tagihan listrik serta air.

Menanggapi kasus ini, Kepala Dinas Sosial DIY, Suyarno, menjelaskan bahwa penghentian PKH kemungkinan besar disebabkan oleh status kepesertaan tunggal. Berdasarkan aturan Kementerian Sosial (Kemensos), kepesertaan PKH otomatis dihentikan apabila penerima manfaat tinggal sendirian tanpa adanya komponen keluarga lain. Meski demikian, pihak dinas membuka peluang bagi Suwarno untuk dialihkan ke skema bantuan lain seperti Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU).

Dinas Sosial DIY berjanji segera melakukan verifikasi faktual di lapangan guna meninjau kembali kondisi ekonomi riil Suwarno. Masyarakat yang mengalami salah sasaran data desil seperti ini juga diimbau untuk aktif mengajukan sanggahan secara mandiri melalui aplikasi resmi atau situs Cek Bansos Kemensos agar bantuan sosial dapat tepat sasaran kembali.

Exit mobile version