Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus meningkatkan kesiapsiagaan menyusul terdeteksinya 36 titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Provinsi Papua Barat. Berdasarkan pantauan satelit NASA-Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA20, sebaran titik panas ini terdeteksi dengan tingkat kepercayaan yang bervariasi, didominasi oleh tingkat kepercayaan sedang hingga tinggi.
Data dari SIPONGI Kementerian Kehutanan mencatat bahwa akumulasi luas lahan yang terbakar di Papua Barat telah mencapai 2.496,39 hektare. Kondisi ini memicu respons cepat dari BNPB, BPBD, dan instansi terkait untuk melakukan penanganan terpadu demi mencegah meluasnya kobaran api ke area pemukiman maupun kawasan sensitif lainnya.
Salah satu titik fokus pemadaman paling intensif saat ini berada di Kabupaten Teluk Bintuni. Wilayah ini menjadi prioritas utama karena kebakaran terjadi di sekitar kawasan Tangguh LNG, sebuah objek vital nasional yang berfungsi sebagai fasilitas kilang gas alam cair utama. Untuk meredam amuk api, helikopter water bombing tipe AS350B3e PK-DBM telah dikerahkan dan secara kumulatif menyiramkan sekitar 69.000 liter air di area terdampak.
Operasi pemadaman di Teluk Bintuni menghadapi tantangan berat akibat karakteristik hutan Papua yang lebat dengan tutupan vegetasi yang sangat rapat. Hal ini menyebabkan air yang dijatuhkan dari udara kerap tertahan di tajuk pohon sebelum mencapai material yang terbakar di permukaan tanah. Guna menyiasatinya, tim gabungan memanfaatkan drone thermal canggih milik BP Berau Ltd untuk melacak koordinat presisi dari 14 titik panas yang tersebar di sekitar area Tangguh LNG.
Selain Teluk Bintuni, potensi karhutla juga dipantau ketat di beberapa wilayah lain seperti Kabupaten Fakfak, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak. Untuk memperkuat penanganan udara, armada tambahan berupa helikopter tipe Super Puma dan Kamov telah disiapkan guna mempercepat proses pemadaman di medan-medan yang sulit dijangkau oleh tim darat.

