Seseorang yang sedang menghadapi tekanan hidup yang berat, baik karena beban pekerjaan maupun dinamika persoalan pribadi, kerap kali tanpa sadar masuk ke dalam kondisi yang dikenal sebagai survival mode (mode bertahan hidup). Meski dari luar tampak tetap beraktivitas normal dan bersemangat, pikiran serta sistem saraf di dalam tubuh sebenarnya sedang berada di bawah tekanan yang luar biasa.
Dalam kondisi ini, otak berfokus penuh untuk merespons potensi ancaman stres, sehingga fungsi eksekutif lainnya mengalami penurunan. Menurut para ahli kesehatan mental dan psikoterapi, terdapat beberapa sinyal utama yang menunjukkan bahwa tubuh dan pikiran Anda sedang berada dalam mode bertahan hidup.
Pertama, menjadi sangat pelupa. Karena sebagian besar energi otak tersedot untuk memantau ancaman, kapasitas memori kerja berkurang drastis. Hal ini membuat seseorang kerap lupa tempat meletakkan barang atau mendadak kehilangan alur pembicaraan. Kedua, sering terbangun di dini hari. Meski tubuh lelah, pikiran tidak sepenuhnya beristirahat sehingga seseorang kerap terbangun dengan rasa cemas yang memicu reaksi sistem saraf simpatik.
Tanda ketiga adalah mudah merasa emosional dan gampang marah. Peningkatan reaktivitas pada amigdala membuat gangguan kecil yang biasanya dapat ditoleransi, kini berpotensi memicu emosi negatif secara drastis. Keempat, Anda cenderung terlalu lama merenungi emosi negatif. Pikiran seolah terkunci pada kecemasan dan sulit merasakan emosi positif, yang jika dibiarkan dapat memicu stres kronis.
Tanda kelima adalah munculnya dorongan kuat untuk mengendalikan situasi. Seseorang yang biasanya santai bisa berubah menjadi sangat perfeksionis. Perubahan perilaku ini terjadi bukan untuk mengontrol orang lain, melainkan sebagai upaya menciptakan rasa aman dan kepastian di tengah situasi yang terasa kacau.
Untuk keluar dari kondisi ini, pakar kesehatan menyarankan teknik pengalihan sistem saraf yang sederhana. Cobalah melakukan teknik grounding dengan menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan menghembuskannya perlahan lewat mulut. Sambil mengamati lingkungan sekitar yang terlihat dan terdengar, bisikkan pada diri sendiri bahwa situasi saat ini aman. Cara ini efektif mengalihkan tubuh dari respons fight or flight menuju kondisi rileks.

