Arus lalu lintas di kawasan Senayan mengalami penyesuaian signifikan menyusul digelarnya aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI pada Kamis (27/8) pagi. Pihak kepolisian memutuskan untuk menutup total Jalan Gatot Subroto yang mengarah ke Slipi guna menjaga kondusivitas situasi di lapangan selama jalannya penyampaian aspirasi.
Penutupan jalan ini mulai diberlakukan di bawah Fly Over Senayan. Untuk mengantisipasi kemacetan panjang, kendaraan yang datang dari arah Semanggi dialihkan menuju Jalan Gerbang Pemuda. Selain kendala mobilitas, sejumlah masyarakat dan awak media di lokasi melaporkan adanya gangguan jaringan telekomunikasi atau penurunan kualitas sinyal seluler sejak massa mulai memadati area depan kompleks parlemen.
Aksi damai ini diinisiasi oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) bersama sejumlah elemen sipil lainnya. Supriyono, yang akrab disapa Botok selaku koordinator lapangan, menegaskan bahwa unjuk rasa kali ini membawa dua tuntutan utama terkait isu pemberantasan korupsi di tanah air. Pertama, mendesak DPR RI dan pemerintah untuk segera merampungkan dan mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset. Kedua, mereka menuntut penerapan sanksi hukum paling berat bagi para pelaku korupsi demi memberikan efek jera yang nyata.
Guna mengawal jalannya aksi agar tetap tertib dan kondusif, sebanyak 18.504 personel kepolisian disiagakan di berbagai titik strategis di Jakarta Pusat. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Reynold E.P. Hutagalung, menegaskan bahwa aparat keamanan mengedepankan pendekatan yang humanis dan persuasif. Ia menjamin bahwa seluruh petugas yang berjaga di lapangan tidak dibekali senjata api maupun senjata tajam.
Sementara itu di dalam kompleks parlemen, DPR RI tetap menjadwalkan Rapat Paripurna. Beberapa agenda krusial yang dibahas dalam rapat tersebut mencakup perkembangan draf RUU Perampasan Aset serta pembahasan terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

