Sebuah potongan video yang memperlihatkan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, tengah berbisik kepada mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai spekulasi percepatan Pemilu sebelum 2029 mendadak viral di media sosial. Cuplikan tersebut memicu spekulasi liar di tengah masyarakat terkait stabilitas politik tanah air. Guna meredam kesalahpahaman, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Projo segera memberikan klarifikasi mendalam mengenai konteks diskusi tersebut.
Sekretaris Jenderal DPP Projo, Fredy Alex Damanik, menegaskan bahwa video yang beredar luas di jagat maya tersebut bukanlah rekaman utuh melainkan hasil potongan (editing). Fredy menjelaskan bahwa pernyataan Budi Arie sebenarnya berada dalam koridor pemetaan berbagai kemungkinan politik masa depan, bukan sebuah rencana konkret atau pernyataan sikap resmi organisasi.
Forum tersebut sejatinya merupakan agenda silaturahmi internal dalam rangka memperingati Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia. Pertemuan hangat itu mempertemukan Jokowi dengan para relawannya guna membahas situasi kebangsaan terkini. Berbagai aspirasi yang berkembang dalam diskusi tersebut sengaja dititipkan kepada Jokowi dengan harapan bisa disampaikan langsung kepada Presiden saat ini, Prabowo Subianto.
Hal ini disampaikan oleh para relawan kepada Pak Jokowi dengan harapan beliau berkenan menyampaikan kepada Presiden Prabowo untuk perbaikan bangsa ke depannya. Relawan Projo meyakini komunikasi antara Jokowi dan Presiden Prabowo yang berjalan sangat erat akan mempermudah penyaluran aspirasi tersebut demi kemajuan transisi kepemimpinan nasional.
Menanggapi berbagai dinamika yang dilemparkan relawan, Jokowi dalam pertemuan tersebut meminta semua pihak untuk tetap tenang dan tidak panik. Menurut Jokowi, situasi nasional saat ini dalam kondisi sangat baik, di mana pertumbuhan ekonomi tetap positif dan angka inflasi sangat terkendali.
Mengenai analogi gerakan aktivis 1997-1998 yang dilontarkan Budi Arie, Projo mengklarifikasi bahwa hal itu murni sebagai pengingat pentingnya kesiapsiagaan organisasi. Budi Arie hanya ingin memastikan bahwa para relawan memiliki mentalitas yang adaptif dan siap menghadapi segala perubahan geopolitik maupun domestik yang bisa saja bergeser lebih cepat dari estimasi pemilu legislatif dan presiden mendatang.

