Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, mencatatkan langkah strategis di panggung internasional. Nama pejabat yang akrab disapa BGS tersebut resmi masuk dalam bursa calon Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menggantikan kepemimpinan Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Masuknya nama Menkes RI ini menempatkan posisi Indonesia di garis depan diplomasi kesehatan global. Dalam kontestasi bergengsi skala dunia tersebut, Budi Gunadi Sadikin dijadwalkan bersaing dengan tiga kandidat prospektif lain yang diajukan oleh negara masing-masing. Ketiga rivalnya meliputi Hanan Mohammed Al-Kuwari usulan Qatar, Hanan Balkhy yang diusung Arab Saudi, serta Hans Henri P. Kluge dicalonkan oleh Belgia.
Pencalonan BGS menuju kursi kepemimpinan tertinggi lembaga kesehatan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini menjadi perhatian luas. Pasalnya, berbeda dari figur pemimpin WHO pada umumnya yang berlatar belakang dokter atau akademisi medis, BGS memiliki rekam jejak unik yang berakar kuat dari sektor korporasi dan keuangan nasional.
Sebelum ditunjuk memimpin Kementerian Kesehatan pada akhir 2020 untuk menggantikan Terawan Agus Putranto di era Presiden Joko Widodo, BGS terlebih dahulu menjabat sebagai Wakil Menteri BUMN. Karier eksekutifnya mentereng di dunia perbankan dan industri, termasuk pernah dipercaya sebagai Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk serta memimpin holding BUMN pertambangan, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).
Kombinasi keahlian manajemen strategi, kepemimpinan krisis, dan pemikiran transformasional yang dibawanya saat menangani pemulihan pandemi di Indonesia menjadi modal penting dalam pencalonan ini. Gaya kepemimpinannya berbasis efisiensi manajerial dinilai mampu membawa perspektif baru dalam reformasi tata kelola kesehatan dunia.
Kehadiran BGS dalam persaingan calon Dirjen WHO tidak hanya menjadi torehan sejarah bagi diplomasi Indonesia, tetapi juga membuktikan kepercayaan dunia internasional terhadap kapasitas kepemimpinan dari kawasan Asia Tenggara dalam mengawal isu-isu kesehatan global di masa depan.

