Site icon Media KotaKita

Kabut Asap Pekanbaru Kian Pekat, Kualitas Udara Masuk Level Berbahaya

Kota Pekanbaru kini tengah menghadapi krisis lingkungan serius setelah diselimuti kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas di wilayah Sumatra. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru memperingatkan bahwa kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau tersebut telah merosot tajam hingga masuk dalam kategori sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Menurut data dari BMKG Stasiun Pekanbaru, jarak pandang di wilayah perkotaan menyusut drastis hingga tersisa hanya sekitar 2 kilometer saja. Penurunan visibilitas yang signifikan ini disebabkan oleh tumpukan partikel abu dan asap tebal yang melayang di atmosfer, mengganggu mobilitas warga serta membahayakan keselamatan transportasi darat maupun udara.

Prakirawan BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati, menjelaskan bahwa tingkat polusi udara berdasarkan parameter PM 2,5 sempat menembus angka mengkhawatirkan, yakni 508,8 mikrogram per meter kubik pada dini hari. Lonjakan angka yang ekstrem ini menempatkan kualitas udara Pekanbaru berada di zona merah atau berbahaya, yang sangat berisiko memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama bagi anak-anak dan lansia.

Kondisi memprihatinkan ini dipicu oleh maraknya titik panas (hotspot) di daratan Sumatra yang kini terdeteksi sebanyak 2.193 titik. Sumatra Selatan menjadi penyumbang terbesar dengan 1.207 titik panas, disusul Riau dengan 393 titik panas. Di tingkat provinsi, sebaran titik api paling mengkhawatirkan berada di Kabupaten Pelalawan dengan 153 titik dan Inderagiri Hilir dengan 140 titik.

Laporan lapangan menunjukkan bahwa bencana karhutla terbesar saat ini melanda Kabupaten Pelalawan dengan estimasi area terbakar mencapai 700 hektare. Sementara itu, kebakaran di Inderagiri Hulu telah melahap sekitar 471 hektare lahan, disusul puluhan hektare lainnya di wilayah Kampar dan Inderagiri Hilir. Upaya pemadaman darat dan udara terus dioptimalkan oleh tim satgas gabungan demi menekan penyebaran titik api yang kian mengancam kelestarian lingkungan.

Exit mobile version