Kabar baik bagi warga Bogor Barat! Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor tengah menyiapkan terobosan besar untuk mengatasi kepadatan lalu lintas sekaligus mendongkrak roda perekonomian wilayah barat. Langkah strategis ini diwujudkan melalui rencana pembangunan jalur kereta api baru yang menghubungkan kawasan Parung Panjang hingga Jasinga, lengkap dengan rancangan enam stasiun baru.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, menyampaikan bahwa pengembangan infrastruktur transportasi berbasis rel ini merupakan arahan langsung dari Bupati Bogor, Rudy Susmanto. Proyek ini ditargetkan untuk membangun sistem transportasi massal yang terintegrasi dan merata di seluruh wilayah kabupaten, bukan hanya berpusat di kawasan Puncak saja.
Berdasarkan kajian awal yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Bogor pada 2025, rute Parung Panjang-Jasinga terpilih sebagai prioritas setelah melewati penilaian ketat terhadap 15 kriteria dari aspek teknis, sosial, ekonomi, hingga lingkungan.
Rencana proyek jalur kereta sepanjang 27,26 kilometer ini akan menggunakan konstruksi di atas permukaan tanah (at grade) dengan tipe rel berat (heavy rail). Jalur ini nantinya akan terhubung langsung dengan stasiun eksisting di Parung Panjang. Menariknya, waktu tempuh perjalanan menggunakan moda transportasi ini diperkirakan hanya memakan waktu 24 menit dengan tarif tiket yang diproyeksikan sangat terjangkau, yakni berkisar antara Rp20.000 hingga Rp30.000 per penumpang.
Selain memangkas kemacetan jalan raya, jalur kereta ini juga dirancang sebagai pengumpan (feeder) menuju jaringan KRL Commuter Line Jabodetabek. Lebih jauh, kehadiran stasiun-stasiun baru ini diharapkan mampu memicu lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di sekitarnya. Parung Panjang diproyeksikan berkembang menjadi kawasan ramah pejalan kaki dengan konsep Transit Oriented Development (TOD), sementara wilayah Tenjo akan diarahkan sebagai pusat stasiun logistik atau barang.
Meskipun demikian, Pemkab Bogor menegaskan bahwa megaproyek ini masih membutuhkan studi kelayakan yang komprehensif. Prosesnya akan melewati empat tahapan penting, mulai dari prastudi kelayakan, analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), Detail Engineering Design (DED), pembebasan lahan, hingga penentuan skema pendanaan investasi sebelum akhirnya masuk ke tahap konstruksi fisik.

