Pemerintah Indonesia tengah menjajaki metode revolusioner dalam mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Presiden RI Prabowo Subianto menginstruksikan jajarannya untuk melakukan uji coba dan produksi massal teknologi pemadam api berbahan dasar tepung ubi atau singkong. Langkah inovatif ini diharapkan menjadi solusi alternatif yang lebih efektif dibandingkan metode konvensional.
Ide unik ini mencuat dalam rapat koordinasi penanganan karhutla yang berlangsung di Palembang. Dalam kesempatan tersebut, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memaparkan adanya inovasi pemadaman api menggunakan zat berbasis tepung ubi. Zat alami ini bekerja dengan cara memisahkan elemen api, oksigen (O2), dan karbon dioksida (CO2), sehingga sangat efektif memutus rantai penyebaran api sejak dini.
Mendengar paparan tersebut, Presiden Prabowo menyambutnya dengan sangat antusias. Ia bahkan melontarkan istilah jenaka “ubi bombing” sebagai pelesetan dari metode water bombing yang biasa menggunakan helikopter penampung air. Prabowo meminta agar efektivitas tepung ubi ini segera diuji coba dalam skala luas menggunakan armada helikopter seperti MI-17, yang mampu mengangkut berton-ton material.
Inovasi dari Babinsa untuk Skala NasionalUsut punya usut, teknologi ramah lingkungan ini ternyata lahir dari kreativitas prajurit di tingkat bawah. Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis mengungkapkan bahwa formula tepung pemadam ini pertama kali ditemukan oleh seorang anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Namun, kendala utama saat ini adalah kapasitas produksinya yang masih sangat terbatas.
Guna merealisasikan produksi skala besar, Presiden Prabowo langsung menginstruksikan jajarannya untuk segera mengajukan anggaran produksi dan melakukan riset mendalam bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Jika uji coba ini berhasil, inovasi ini berpotensi menjadi game changer dalam mitigasi bencana karhutla yang kerap melanda berbagai wilayah di Indonesia setiap musim kemarau.
Penggunaan bahan lokal seperti ubi kayu dan singkong tidak hanya menawarkan efisiensi biaya, tetapi juga ramah lingkungan dibandingkan bahan kimia pemadam api konvensional. Langkah taktis ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mengoptimalkan potensi lokal demi kedaulatan lingkungan hidup di tanah air.

