Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah mengambil langkah cepat dan tegas dalam merespons ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian mengkhawatirkan. Menanggapi lonjakan signifikan jumlah titik panas (hotspot) di wilayahnya, Pemprov resmi membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) demi memperketat pengawasan dan percepatan penanganan bencana.
Langkah strategis ini disahkan melalui Keputusan Gubernur Papua Tengah Nomor 100.3.1.144 Tahun 2026. Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, secara langsung memimpin satgas provinsi tersebut. Satgas ini bertugas mengoordinasikan langkah-langkah mitigasi serta penanggulangan darurat di delapan kabupaten yang berada di bawah naungan Provinsi Papua Tengah.
Juru Bicara Gubernur Papua Tengah, Emanuel You, menyampaikan bahwa pembentukan satuan tugas ini bertujuan untuk menyelaraskan koordinasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah daerah. Dalam mekanisme ini, para bupati di delapan kabupaten bertindak sebagai ketua satgas di wilayah masing-masing untuk memastikan respons cepat di lapangan.
Lonjakan Titik Panas Mengkhawatirkan
Langkah darurat ini diambil menyusul laporan terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG Nabire mencatat temuan mencengangkan dengan total 653 titik panas yang tersebar di wilayah Papua Tengah. Kabupaten Nabire menjadi daerah dengan sebaran titik panas tertinggi, yakni mencapai 321 titik. Disusul kemudian oleh Kabupaten Puncak dengan 100 titik, Kabupaten Dogiyai 97 titik, serta Kabupaten Paniai sebanyak 59 titik.
Melalui rapat koordinasi berkala dan pemantauan ketat, Satgas Karhutla akan mengidentifikasi tingkat eskalasi kebakaran di tiap wilayah. Data perkembangan titik api dan tindakan tanggap darurat dari masing-masing kabupaten akan terus diperbarui agar penyaluran bantuan serta kebutuhan operasional dapat disesuaikan secara presisi dengan kondisi di lapangan.
Imbauan Menjaga Hutan sebagai Noken Kehidupan
Selain memperkuat kesiapan infrastruktur dan personel penanggulangan, Pemprov Papua Tengah juga menaruh perhatian besar pada upaya pencegahan berbasis masyarakat. Emanuel You mengimbau seluruh warga agar menghentikan segala bentuk aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran meluas.
Ia menekankan betapa pentingnya menjaga hutan adat dan alam Papua yang diibaratkan sebagai noken kehidupan—sumber utama mata pencaharian dan keberlangsungan hidup masyarakat lokal. Kesadaran kolektif dari masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah kerusakan lingkungan akibat karhutla.

