Kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyisakan duka mendalam bagi pelestarian budaya Nusantara. Sebanyak 129 rumah adat suku Sasak hangus dilalap si jago merah pada Sabtu malam (22/8). Menanggapi bencana ini, Pemerintah Provinsi NTB bergerak cepat dengan merancang skema rekonstruksi total untuk mengembalikan kejayaan salah satu ikon wisata budaya paling populer di Indonesia tersebut.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan komitmennya untuk membangun kembali pemukiman tradisional tersebut. Pihaknya kini tengah berkoordinasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah demi merumuskan langkah pemulihan yang cepat dan tepat sasaran. Menurut Iqbal, Desa Adat Sade bukan sekadar tempat tinggal biasa, melainkan simbol peradaban dan warisan sejarah suku Sasak yang wajib diselamatkan.
Selain fokus pada rencana pembangunan jangka panjang, prioritas utama saat ini adalah memastikan kesejahteraan ratusan warga terdampak yang kini mengungsi di gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Rembitan. Gubernur menginstruksikan jajarannya agar pasokan pangan, pakaian, hingga akses pendidikan anak-anak tidak boleh terputus selama masa darurat ini.
Pembangunan kembali Desa Adat Sade tentu memiliki tantangan tersendiri. Rumah adat suku Sasak terkenal sangat unik karena menggunakan bahan alam tradisional. Atapnya terbuat dari jerami kering, dindingnya dari anyaman bambu (bedek), dan struktur kayunya disambung menggunakan paku bambu. Yang paling khas, lantainya terbuat dari campuran tanah liat dan kotoran kerbau yang berfungsi memperkokoh bangunan secara alami tanpa semen modern.
Melalui proses rekonstruksi yang matang, diharapkan nilai-nilai historis dan arsitektur kuno warisan leluhur ini tetap terjaga keasliannya, sekaligus membangkitkan kembali sektor pariwisata budaya di Lombok pascabencana.

