Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Pulau Sumatera semakin mengkhawatirkan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru melaporkan adanya lonjakan drastis jumlah titik panas (hotspot) hingga mencapai 1.104 titik yang tersebar di sembilan provinsi.
Berdasarkan pantauan citra satelit terbaru, Provinsi Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan temuan titik panas tertinggi, yakni mencapai 528 titik. Posisi berikutnya ditempati oleh Bangka Belitung dengan 221 titik, Lampung 98 titik, Riau 97 titik, dan Jambi 83 titik.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Anggun R, mengungkapkan bahwa wilayah lain seperti Kepulauan Riau (34 titik), Bengkulu (19 titik), Aceh (13 titik), Sumatera Utara (9 titik), dan Sumatera Barat (5 titik) juga tak luput dari sebaran titik panas tersebut.
Situasi Krusial Kebakaran Lahan di Riau
Khusus di Provinsi Riau, 97 titik panas terdeteksi di delapan kabupaten/kota. Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah paling kritis dengan temuan 71 titik panas. Sementara sisanya tersebar di Indragiri Hilir (8 titik), Kampar (4 titik), Indragiri Hulu dan Dumai (masing-masing 3 titik), serta Bengkalis, Kepulauan Meranti, Rokan Hulu, dan Kuantan Singingi.
Eskalasi titik panas ini terbukti memicu kebakaran hebat di lapangan. Tim Manggala Agni mencatat setidaknya lebih dari 700 hektare lahan telah hangus terbakar di Riau dalam beberapa hari terakhir. Area terdampak paling parah berada di Kabupaten Indragiri Hulu seluas 434 hektare dan Pelalawan seluas 300 hektare.
Penanganan Darurat dan Pengerahan Personel
Untuk menanggulangi amukan si jago merah, tim gabungan terus melakukan pemadaman intensif di sejumlah titik di Riau, termasuk di wilayah Kampar, Siak, dan Bengkalis.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menegaskan bahwa frekuensi kebakaran tertinggi saat ini terkonsentrasi di Riau dan Sumatera Selatan. Mengingat parahnya kondisi di Sumatera Selatan, personel Manggala Agni dari Jambi bahkan telah dikerahkan (di-BKO-kan) selama 15 hari untuk membantu penanganan darat di wilayah Sumsel.
Masyarakat dan pihak pengelola lahan diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran guna mencegah meluasnya bencana asap di Pulau Sumatera.

