Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus diguncang oleh rangkaian gempa bumi susulan yang memicu kekhawatiran mendalam bagi masyarakat setempat. Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat sudah terjadi ribuan gempa susulan pasca-gempa utama yang melanda wilayah tersebut. Kondisi ini memaksa ratusan ribu warga untuk meninggalkan tempat tinggal mereka demi mencari keselamatan di posko-posko pengungsian.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan bahwa intensitas aktivitas seismik di NTT sangat tinggi. Hingga saat ini, tercatat ada 5.012 kali gempa susulan dengan kekuatan bervariasi antara magnitudo 1,1 hingga yang terbesar mencapai 6,2. Dari total rentetan gempa tersebut, sebanyak 124 getaran dirasakan secara nyata oleh warga, memperlambat proses pemulihan psikologis korban terdampak.
Dampak kerusakan fisik dan korban jiwa juga dilaporkan terus bertambah. BNPB mencatat akumulasi korban meninggal dunia kini telah mencapai 87 orang. Sementara itu, korban yang mengalami luka-luka tercatat sebanyak 1.298 orang, dengan rincian 336 di antaranya mengalami luka berat. Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban luka terbanyak yakni mencapai 643 jiwa, disusul oleh Kabupaten Manggarai dengan 285 jiwa.
Tingginya frekuensi gempa susulan berimbas langsung pada lonjakan drastis jumlah pengungsi. Sebanyak 150.576 jiwa saat ini bertahan di tenda-tenda darurat. Sebaran pengungsi terbesar berada di tiga wilayah utama, yakni Kabupaten Manggarai dengan 41.427 jiwa, Kabupaten Nagekeo sebanyak 34.256 jiwa, serta Kabupaten Manggarai Timur dengan 31.372 jiwa.
Untuk mempercepat penanganan darurat di lapangan, BNPB telah mengaktifkan Pos Pendukung Logistik Nasional (Posdugloknas) yang berpusat di Halim Perdanakusuma, Jakarta. Hingga saat ini, total bantuan kemanusiaan yang berhasil diterbangkan ke NTT telah mencapai 954 ton melalui 68 sorti penerbangan. Pemerintah berkomitmen untuk terus menyalurkan bantuan logistik dasar guna menjamin kebutuhan pangan dan kesehatan para pengungsi tetap terpenuhi.

