Upaya penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan, khususnya di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kini tengah berada di titik krusial. Para petugas gabungan dan relawan harus berjibaku melawan kobaran api di tengah berbagai keterbatasan sarana dan prasarana yang sangat vital di lapangan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengungkapkan bahwa proses pemadaman di puluhan titik api menyisakan tantangan yang luar biasa berat. Setidaknya ada 22 titik kebakaran aktif di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang yang harus ditangani secara bersamaan. Sayangnya, efektivitas pemadaman terhambat oleh faktor teknis seperti minimnya panjang selang, kerusakan mesin pompa air, hingga lokasi kebakaran yang berada jauh di dalam hutan yang sulit diakses oleh armada pemadam.
Krisis Air dan Bahan Bakar Minyak (BBM)
Senada dengan pihak BPBD, Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, membeberkan bahwa pasokan air dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi batu sandungan terbesar dalam operasi penyelamatan lingkungan ini. Jalur distribusi air yang terlampau jauh memaksa petugas memutar otak. Kendati pihak kecamatan telah mencoba melibatkan partisipasi masyarakat di tingkat RT, kendala transportasi warga yang tidak memadai membuat mobilisasi tangki air berjalan lambat.
Lebih memprihatinkan lagi, operasional pemadaman selama lebih dari sebulan terakhir ini sebagian besar mengandalkan sistem swadaya tanpa adanya sokongan dana taktis yang memadai. Bantuan BBM operasional yang diterima pun dinilai masih jauh dari kata cukup untuk menopang kebutuhan harian armada relawan di garda terdepan.
Kesehatan Relawan Mulai Tumbang
Tekanan fisik dan mental akibat durasi kerja yang ekstrem mulai memakan korban dari sisi kemanusiaan. Salah seorang relawan dilaporkan terpaksa dilarikan ke IGD RSUD dr Murjani Sampit setelah mengalami sesak napas akut dan kelelahan hebat saat menjinakkan si jago merah di bawah kepungan asap pekat. Beruntung, kondisi korban kini telah dilaporkan stabil setelah mendapatkan penanganan medis intensif.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kalimantan Tengah saat ini menduduki posisi puncak wilayah dengan sebaran titik panas (hotspot) tertinggi di Kalimantan, yakni mencapai 767 titik, disusul Kalimantan Barat dengan 560 titik panas. Tingginya angka sebaran ini menuntut adanya sinergi yang lebih kuat serta dukungan logistik yang lebih masif dari berbagai pihak agar bencana kabut asap tidak semakin meluas.

