Site icon Media KotaKita

Gempur Karhutla, TNI Kerahkan 14 Ribu Prajurit dan Hujan Buatan di Sumatra-Kalimantan

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas di wilayah Sumatra dan Kalimantan memicu respons cepat dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sebagai langkah konkret, Mabes TNI resmi mengerahkan sebanyak 14.167 prajurit ke berbagai titik rawan kebakaran. Pasukan ini diterjunkan untuk memadamkan api sekaligus mengantisipasi potensi penyebaran kebakaran yang berisiko memperburuk kualitas udara di tanah air.

Langkah taktis TNI tidak hanya berfokus pada pemadaman jalur darat. Melalui sinergi erat bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG, TNI AU meluncurkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Tiga unit pesawat Cassa-212 dikerahkan untuk menciptakan hujan buatan di atas langit Kalimantan. Satu armada difokuskan mengamankan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), sementara dua armada lainnya menyasar wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan guna meredam titik panas (hotspot).

Kondisi darurat ini juga mendapat perhatian serius dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Surat instruksi mendesak telah diterbitkan untuk enam gubernur di wilayah prioritas, meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pemerintah daerah kini diwajibkan memperketat pengawasan, menghentikan pembukaan lahan dengan cara membakar, serta mengaktifkan posko siaga bencana guna melindungi kesehatan masyarakat.

Desakan agar status karhutla ditingkatkan pun mulai bermunculan. Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, meminta pemerintah segera menetapkan situasi di Kalimantan sebagai bencana nasional. Menurutnya, kepulan asap pekat telah melumpuhkan aktivitas sosial dan roda perekonomian warga setempat. Data BNPB mencatat lonjakan hotspot yang mengkhawatirkan, dengan Kalimantan Tengah mencatatkan angka tertinggi sebesar 767 titik, diikuti Kalimantan Barat dengan 560 titik panas.

Kolaborasi multisektoral antara TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat diharapkan mampu menekan laju kerusakan ekologi ini. Upaya mitigasi komprehensif, mulai dari pembasahan lahan gambut hingga patroli intensif, terus digencarkan demi mencegah dampak karhutla yang lebih destruktif.

Exit mobile version