Masyarakat di kawasan Pandeglang, Banten, dikejutkan oleh guncangan gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,8 pada Sabtu dini hari. Guncangan yang terjadi saat sebagian besar warga sedang beristirahat ini sempat memicu kekhawatiran. Kendati demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera merilis pernyataan resmi untuk menenangkan warga bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
Berdasarkan data yang dihimpun dari BMKG, pusat gempa atau episenter terletak di koordinat 7,73 Lintang Selatan dan 104,33 Bujur Timur. Lokasi ini berada di wilayah perairan laut, tepatnya berjarak sekitar 182 kilometer ke arah barat daya Sumur, Pandeglang, Banten. Gempa ini dikategorikan sebagai gempa bumi dangkal karena memiliki kedalaman hiposenter yang relatif dekat dengan permukaan bumi, yaitu hanya 10 kilometer.
Pemicu Gempa dan Aktivitas Subduksi
Dari hasil analisis mendalam terhadap episenter dan kedalamannya, BMKG menjelaskan bahwa gempa bumi tektonik ini dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng. Gerakan lempeng tektonik yang saling bertubrukan ini menghasilkan mekanisme pergerakan naik yang dikenal dengan istilah thrust fault. Tekanan tektonik yang terlepas secara tiba-tiba inilah yang menyebabkan getaran merambat hingga ke daratan Banten.
Guncangan gempa dirasakan cukup kuat di beberapa wilayah di Kabupaten Pandeglang. Laporan visual dari peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG menunjukkan bahwa getaran mencapai skala intensitas III-IV MMI (Modified Mercalli Intensity) di wilayah seperti Kecamatan Cimanggu, Sumur, dan Cibitung. Skala III-IV MMI mengindikasikan bahwa getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seakan-akan ada truk besar yang melintas, bahkan hingga membuat benda gantung bergoyang.
Imbauan BMKG Kepada Masyarakat
Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat peristiwa alam ini. BMKG mengimbau masyarakat di pesisir Banten dan sekitarnya agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga juga disarankan untuk memeriksa kondisi bangunan tempat tinggal guna memastikan tidak ada retakan struktural yang membahayakan sebelum kembali beraktivitas di dalam rumah.

