Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali merilis data terbaru mengenai situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, satelit pemantau berhasil mendeteksi sebanyak 198 titik api (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah tersebut. Temuan ini menjadi alarm keras bagi upaya penyelamatan lingkungan di Kalimantan.
Laporan darurat ini disampaikan langsung oleh Tenaga Ahli Kepala BNPB, Brigjen TNI (Purn.) Asrianus Bulo, di hadapan Presiden Prabowo Subianto saat kunjungan kerja ke Kalimantan. Bulo menjelaskan bahwa tingginya tingkat kepercayaan pada sensor satelit mengindikasikan kuatnya keberadaan kobaran api nyata yang disertai kepulan asap pekat di lapangan.
Selain titik api utama, BNPB juga mencatat adanya 3.100 hotspot dengan tingkat kepercayaan menengah dan 406 titik dengan tingkat kepercayaan rendah. Wilayah sebaran titik api paling parah terpantau berada di Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, dan Kayong Utara. Tidak hanya itu, beberapa wilayah di sektor selatan dan timur seperti Sanggau, Sintang, hingga Sambas juga mulai menunjukkan indikasi kebakaran yang perlu segera diwaspadai.
Di tengah kondisi yang kian mengkhawatirkan, upaya mitigasi lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sempat terhambat. Meskipun OMC telah diupayakan sejak 11 hingga 18 Agustus lalu, operasi tersebut terpaksa dihentikan sementara. Keputusan ini diambil karena minimnya potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah tangkapan air Kalimantan Barat dalam sepekan terakhir.
Merespons situasi kritis ini, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah taktis dengan memimpin langsung koordinasi penanggulangan bencana di lapangan. Melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Presiden menginstruksikan jajaran TNI dan Polri untuk berkolaborasi secara masif.
Khusus untuk wilayah Kalimantan Barat, penanganan karhutla kini dikomandoi langsung oleh Panglima TNI dan Kapolri. Langkah cepat ini diambil demi memastikan api segera padam sehingga masyarakat setempat terhindar dari ancaman kabut asap ekstrem dan dapat kembali beraktivitas dengan normal.

