Site icon Media KotaKita

Udara Pontianak Kategori Berbahaya, Orang Tua Desak Sekolah Daring Akibat Kabut Asap Karhutla

Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Kondisi udara yang kian memburuk ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan orang tua murid. Mereka mendesak Dinas Pendidikan setempat untuk segera mengambil langkah penyelamatan, salah satunya dengan meliburkan aktivitas belajar mengajar tatap muka atau mengalihkan proses pembelajaran secara daring (online).

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Paparan kabut asap tebal sangat berisiko memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak-anak. Salah seorang orang tua siswa, Rahmawati, mengungkapkan bahwa anak-anak usia sekolah dasar belum sepenuhnya memahami bahaya menghirup udara berpolusi saat bermain di luar kelas. Oleh karena itu, kebijakan belajar dari rumah dinilai sebagai solusi paling logis untuk melindungi kesehatan generasi muda.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat yang merujuk pada pantauan BMKG, lonjakan titik panas (hotspot) memang sangat signifikan. Terdeteksi sebanyak 3.759 titik panas di seluruh wilayah Kalbar. Kabupaten Ketapang menjadi penyumbang terbesar dengan 1.795 titik, disusul Kabupaten Sanggau dan Landak. Meski Kota Pontianak nihil titik panas, arah angin membawa kabut asap pekat dari wilayah sekitar dan mengepung wilayah perkotaan.

Kondisi ini diperparah dengan rilis indeks kualitas udara dari IQAir yang menunjukkan angka mencengangkan. Indeks Kualitas Udara (AQI) di Pontianak sempat menyentuh angka 491, yang masuk dalam kategori “Berbahaya” (Hazardous). Polutan utama berupa PM2.5 tercatat mencapai konsentrasi 321 mikrogram per meter kubik. Partikel mikro ini sangat berbahaya karena mampu menembus sistem pernapasan terdalam dan memicu gangguan fungsi paru hingga jantung.

Melihat situasi yang kian darurat, masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas fisik di luar ruangan dan wajib mengenakan masker standar medis jika terpaksa keluar rumah. Langkah cepat dari pemangku kebijakan sangat dinantikan guna meminimalkan dampak buruk kesehatan akibat bencana tahunan ini.

Exit mobile version