Dunia pendidikan tinggi Indonesia kembali diguncang skandal besar setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar dugaan suap penerimaan mahasiswa baru (maba) di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Lewat Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang digelar di Purwokerto dan Jakarta, lembaga antirasuah ini menemukan modus transaksi menggunakan sistem berlapis (layering) untuk menyamarkan uang pelicin, khususnya di Fakultas Kedokteran.
Dalam operasi senyap tersebut, KPK mengamankan total 14 orang. Salah satu figur utama yang terjaring OTT ini adalah Rektor Unsoed, Akhmad Sodiq. Proses penangkapan dilakukan di dua lokasi berbeda secara paralel; sebanyak 12 orang diamankan di wilayah Purwokerto, Jawa Tengah, sedangkan dua orang lainnya ditangkap di Jakarta. Saat ini, sembilan orang di antaranya tengah menjalani pemeriksaan intensif di Gedung Merah Putih KPK.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengungkapkan bahwa praktik lancung ini melibatkan tarif hingga ratusan juta rupiah agar calon mahasiswa dapat mulus diterima di Fakultas Kedokteran Unsoed. Penggunaan metode layering dalam transaksi keuangan ini disinyalir sengaja dirancang untuk memutus rantai pelacakan aliran dana ilegal dari pihak orang tua wali agar tidak langsung mengarah kepada pejabat kampus.
Pihak KPK sangat menyayangkan terjadinya praktik korupsi di sektor pendidikan ini. Tindakan transaksional di gerbang masuk universitas dinilai merusak nilai-nilai moral akademis yang seharusnya menjadi gapura cita-cita masa depan bangsa. Selain mengamankan para terduga pelaku, penyidik KPK juga menyita barang bukti berupa uang tunai senilai ratusan juta rupiah yang diduga kuat merupakan bagian dari komitmen suap tersebut.

