Pemerintah Indonesia tengah bersiap menyongsong babak baru dalam peta perdagangan internasional dengan menargetkan finalisasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA). Langkah strategis ini diproyeksikan rampung dan ditandatangani pada Oktober 2026 mendatang. Kerja sama bilateral ini diyakini akan menjadi poros penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa dekade ke depan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa penyusunan dokumen versi bahasa Inggris dari perjanjian ini sedang dalam tahap penyelesaian akhir. Setelah proses penandatanganan sukses dilakukan, draf kesepakatan tersebut akan langsung diserahkan kepada Parlemen Uni Eropa guna mendapatkan ratifikasi resmi.
Untuk mempercepat pemberlakuan di dalam negeri, pemerintah berencana menggunakan instrumen hukum berupa Peraturan Presiden (Perpres). Strategi ini diambil setelah Menteri Perdagangan, Budi Santoso, melakukan konsultasi intensif dengan DPR RI. Melalui mekanisme Perpres, proses birokratis dapat dipangkas sehingga implementasi kesepakatan dagang raksasa ini bisa berjalan jauh lebih gesit dan efisien.
Pemerintah optimistis, setelah seluruh regulasi turunan termasuk Peraturan Pemerintah (PP) diterbitkan, IEU-CEPA dapat mulai dioperasikan secara penuh pada awal tahun 2027. Kehadiran perjanjian ini digadang-gadang sebagai game changer bagi perekonomian Indonesia karena menawarkan berbagai kemudahan akses pasar global.
Salah satu keuntungan konkret dari kesepakatan ini adalah pemangkasan tarif masuk. Sebanyak 90 persen pos tarif ekspor Indonesia ke Uni Eropa akan langsung dipangkas menjadi 0 persen secara bertahap. Penurunan bea masuk ini tentu memberikan angin segar bagi para pelaku usaha dan eksportir lokal untuk bersaing di pasar Eropa.
Selain merangsang kinerja ekspor, IEU-CEPA juga dirancang untuk membuka keran investasi asing langsung (FDI) dari negara-negara Uni Eropa ke Indonesia. Kehadiran investasi baru ini diharapkan dapat menyasar berbagai sektor industri strategis, sekaligus memperkuat rantai pasok global yang dimiliki Indonesia saat ini.

