Palang Merah Indonesia (PMI) bergerak cepat dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di bawah arahan Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla, organisasi kemanusiaan ini memprioritaskan kecepatan dan ketepatan respons guna meminimalisir dampak buruk pascabencana.
Jusuf Kalla menegaskan bahwa dalam kondisi darurat, waktu adalah hal yang paling krusial. PMI berkomitmen penuh untuk mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada demi memenuhi kebutuhan mendasar para penyintas gempa, mulai dari layanan kesehatan hingga pasokan air bersih.
“Kecepatan bertindak dalam situasi darurat adalah kunci utama penanganan bencana. Kami di PMI terus mengupayakan agar logistik, layanan kesehatan, perlindungan, serta akses air bersih dapat segera menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” ujar pria yang akrab disapa JK tersebut.
Hingga pertengahan Agustus, PMI telah menerjunkan sedikitnya 68 personel tangguh ke lokasi terdampak. Untuk menunjang mobilitas dan distribusi bantuan, armada operasional yang terdiri dari tujuh kendaraan taktis, tujuh unit ambulans, serta satu armada mobil tangki air bersih dikerahkan secara intensif ke titik-titik pengungsian.
Tidak hanya berfokus pada logistik fisik, aspek kesehatan fisik dan mental para korban juga menjadi prioritas utama. PMI mengirimkan dua tim medis keliling yang beranggotakan para dokter dan perawat berpengalaman dari PMI Pusat, RS PMI Bogor, dan PMI DKI Jakarta. Tim medis ini bekerja sama dengan dinas kesehatan setempat untuk memastikan warga mendapatkan penanganan medis yang layak.
Berdasarkan laporan terkini, lebih dari 150 warga telah mendapatkan layanan pengobatan gratis serta pertolongan pertama dari tim medis keliling. Selain itu, hampir 150 penyintas, khususnya anak-anak dan kelompok rentan, mendapatkan layanan dukungan psikososial (trauma healing) untuk memulihkan kondisi mental mereka pascatrauma gempa.
Langkah taktis PMI ini membuktikan komitmen nyata dalam misi kemanusiaan di tanah air, memastikan bahwa masyarakat NTT tidak sendirian dalam menghadapi masa-masa sulit pascabencana.

