Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini tengah mengintai wilayah Nabire, Papua Tengah. Menanggapi situasi kritis tersebut, Kepolisian Daerah (Polda) Papua Tengah bergerak cepat dengan menerjunkan ratusan personel gabungan, termasuk jajaran Satuan Brimob, guna melokalisasi dan memadamkan kobaran api agar tidak semakin meluas ke area pemukiman dan hutan lindung.
Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Jermias Rontini, menegaskan bahwa langkah taktis ini diambil demi meminimalisasi dampak kerusakan lingkungan yang lebih besar. Ratusan personel yang dikerahkan dibekali dengan peralatan pemadaman intensif serta langsung diterjunkan ke titik-titik api yang paling krusial di lapangan.
Tidak hanya melakukan pemadaman secara fisik, aparat kepolisian juga aktif berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), instansi pemerintah daerah, serta masyarakat adat setempat. Langkah mitigasi ini sangat penting untuk memantau pergerakan arah angin dan mengantisipasi munculnya titik api baru secara real-time.
Berdasarkan data pemantauan BMKG Nabire terbaru, sebaran titik panas (hotspot) di wilayah Papua Tengah menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Terdeteksi sebanyak 512 titik panas di provinsi tersebut, dengan Kabupaten Nabire menjadi penyumbang terbesar mencapai 279 titik, atau sekitar 54,5 persen dari total keseluruhan.
Dari ratusan titik panas tersebut, mayoritas berada dalam kategori kerawanan sedang hingga tinggi. Kondisi cuaca yang kering dan embusan angin kencang menjadi faktor pemicu utama yang mempercepat penyebaran bara api di lahan gambut dan area alang-alang kering.
Oleh karena itu, Brigjen Pol Jermias Rontini mengimbau keras seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar. Partisipasi aktif warga dalam melaporkan kepulan asap atau indikasi awal kebakaran sangat krusial untuk mencegah bencana kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan transportasi di Papua Tengah.

