Site icon Media KotaKita

Waspada Gempa Susulan NTT: BNPB Imbau Warga Tetap Tenang dan Hindari Bangunan Rusak

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk tetap tenang namun waspada terkait potensi gempa susulan yang diprediksi masih akan terjadi hingga tiga pekan ke depan. Gempa susulan ini merupakan kelanjutan dari gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo pada Sabtu (15/8) lalu.

Kepala BNPB, Letjen Suharyanto, menegaskan bahwa berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geisika (BMKG), tren kekuatan gempa susulan tersebut cenderung terus menurun dan jauh lebih kecil dibandingkan dengan gempa utama. Oleh karena itu, ia meminta warga untuk tidak panik secara berlebihan serta mengabaikan isu-isu hoaks seperti potensi tsunami yang tidak berdasar ilmiah.

“Masyarakat diimbau tetap waspada selama 2 hingga 3 minggu ke depan. Berdasarkan data ilmiah BMKG, gempa susulan memang masih terjadi, namun kekuatannya tidak akan sebesar gempa utama dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami,” ujar Suharyanto saat mengunjungi posko pengungsian di Desa Peozaka Ramba, Kabupaten Ende.

Langkah antisipasi mandiri menjadi poin krusial yang ditekankan oleh BNPB. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan struktural diimbau keras untuk tidak memasuki bangunan tersebut terlebih dahulu. Sebagai alternatif aman, warga disarankan memanfaatkan tenda pengungsian di sekitar tempat tinggal sembari menunggu proses verifikasi kelayakan bangunan oleh otoritas berwenang.

Pemerintah Provinsi NTT sendiri telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari, terhitung dari tanggal 15 hingga 28 Agustus. Langkah cepat ini diambil guna mempercepat penyaluran bantuan dan penanganan dampak pascabencana di lapangan.

Hingga saat ini, dampak dari bencana tektonik ini cukup signifikan. Data terbaru dari BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 71 jiwa. Sementara itu, gelombang pengungsian terus melonjak hingga menyentuh angka 59.647 jiwa, dengan konsentrasi pengungsi terbesar berada di wilayah Kabupaten Manggarai.

BNPB bersama jajaran BPBD, BMKG, dan pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk terus mendampingi para penyintas di masa darurat ini. Warga diingatkan untuk selalu menyaring informasi dari kanal resmi pemerintah guna menghindari kepanikan akibat informasi palsu yang beredar di media sosial.

Exit mobile version