Bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan duka mendalam. Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dunia kini telah bertambah menjadi 72 orang. Gempa yang berpusat di Kabupaten Nagekeo ini juga mengakibatkan ratusan warga luka-luka dan puluhan ribu lainnya harus mengungsi.
Data dari Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatinkom) BNPB merinci bahwa selain korban jiwa, terdapat sekitar 900 orang yang mengalami luka-luka akibat tertimpa reruntuhan. Dampak sosial dari bencana ini sangat masif, dengan 82.691 jiwa terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka, dan sebanyak 18.019 kepala keluarga terdampak secara langsung.
Kerusakan infrastruktur di berbagai wilayah NTT dilaporkan sangat parah. Tercatat sebanyak 29.001 unit rumah warga mengalami kerusakan, dengan rincian 11.699 rumah rusak berat, 6.542 rusak sedang, dan 10.760 rusak ringan. Fasilitas publik pun tidak luput dari dampak guncangan hebat ini, termasuk 804 fasilitas pendidikan, 237 fasilitas kesehatan, serta 195 rumah ibadah yang mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi.
Merespons situasi darurat ini, Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari. Upaya penanganan pengungsi, pencarian korban, dan penyaluran bantuan logistik terus diintensifkan di titik-titik terdampak.
Kepala BNPB, Letjen Suharyanto, saat meninjau langsung para penyintas di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Menurutnya, potensi gempa susulan masih ada hingga beberapa minggu ke depan, meskipun dengan skala yang diprediksi jauh lebih kecil dibandingkan gempa utama.
“Jangan panik, tetapi tetap waspada. Gempa susulan mungkin masih terjadi, tetapi kekuatannya tidak sebesar gempa utama. Berdasarkan analisis ilmiah BMKG, potensi tsunami akibat aktivitas ini juga tidak ada,” ujar Suharyanto guna menenangkan warga terdampak.

