Site icon Media KotaKita

Taruhan Nyawa di Garis Depan: Relawan Karhutla Kalteng Berjuang Hingga Terkapar di Tengah Kepungan Asap

Di balik kepulan asap tebal yang membayangi langit Kalimantan Tengah, tersimpan kisah heroik dan pengorbanan tanpa batas dari para pejuang lingkungan. Salah satunya adalah Rizky Mubarrak, seorang relawan tangguh dari Kabupaten Kotawaringin Timur, yang kini harus beristirahat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Murjani Sampit. Kelelahan ekstrem dan paparan asap pekat selama berjam-jam saat berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah membuatnya terkapar, menjadi potret nyata beratnya perjuangan di garis depan.

Rizky, anggota kelompok relawan aktif dari Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, dikenal gigih dalam berbagai misi kebencanaan. Namun, tugasnya kali ini di Kecamatan Baamang, dekat Semekto, menuntut harga yang mahal. Ia mengalami sesak napas dan kelelahan parah setelah tak henti-hentinya memadamkan api dari satu titik ke titik lain. “Diduga terpapar asap tebal dan kelelahan setelah berjam-jam berada di lokasi kebakaran, kondisi Rizky kemudian menurun. Ia mendapat penanganan medis di rumah sakit,” terang Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, mengutip pernyataan yang diwartakan sebelumnya.

Kisah Rizky bukan sekadar insiden individual, melainkan cerminan dari situasi karhutla di Kotawaringin Timur yang kian mengkhawatirkan dan meluas. Menurut Irpansyah, api kini membakar dari ujung Desa Bapanggang hingga Kelurahan Pasir Putih, menandakan betapa tidak terkendalinya kondisi di lapangan. Para relawan seringkali harus berjibaku dengan api di lokasi yang sulit dijangkau, dengan sumber air yang sangat terbatas. Ironisnya, banyak masyarakat di beberapa desa terpaksa melakukan pemadaman secara mandiri tanpa dukungan memadai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar).

Keterbatasan sumber daya menjadi tantangan utama yang tak kunjung usai. Selama sebulan terakhir, upaya pemadaman di Mentawa Baru Ketapang sebagian besar bergantung pada swadaya relawan. Kendala utama adalah pasokan air dan bahan bakar minyak (BBM). Meskipun BPBD Kotawaringin Timur sempat menyalurkan 30 liter BBM pada pertengahan Agustus, jumlah tersebut masih jauh dari kata cukup untuk operasional pemadaman yang masif dan berkelanjutan. “Kami sudah kerja hampir satu bulan lebih, dan di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang khususnya, kami swadaya. Jadi, enggak ada bantuan sama sekali (secara signifikan),” keluh Irpansyah, menyoroti minimnya dukungan yang diterima.

Di tengah situasi genting ini, Irpansyah juga telah mengingatkan para relawan, termasuk Rizky, untuk tidak memaksakan diri mencapai titik api yang terlalu jauh dari pemukiman. “Saya katakan kalau yang sudah jauh dari permukiman, biarkan saja karena hemat tenaga. Kita selamatkan dulu diri kita. Kalau sudah mendekati permukiman baru bergerak,” pesannya, menekankan pentingnya keselamatan pribadi. Syukurlah, kondisi Rizky kini mulai stabil setelah mendapatkan perawatan medis intensif, meskipun keluhan sesak napas dan kelelahan masih menjadi perhatian.

Perjuangan para relawan karhutla di Kalimantan Tengah adalah saga tentang keberanian, gotong royong, dan pengorbanan. Mereka adalah garda terdepan yang mempertaruhkan kesehatan dan nyawa demi menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan warga. Kisah Rizky Mubarrak menjadi pengingat pahit tentang betapa gentingnya krisis karhutla dan betapa besar kebutuhan akan dukungan yang lebih substansial bagi para pahlawan tak berseragam ini. Semoga dedikasi mereka mendapatkan perhatian dan dukungan yang layak, agar Bumi Kalimantan bisa kembali bernapas lega.

Exit mobile version