Indonesia sedang menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah, di mana sekitar 96% dari 511 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) masih mengandalkan sistem open dumping atau pembuangan terbuka. Praktik ini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga menjadi pemicu utama emisi gas metana dalam skala masif, gas rumah kaca yang 25 kali lebih kuat dari karbon dioksida. Tumpukan sampah organik, yang mendominasi komposisi timbunan sampah, adalah biang keladi di balik produksi metana ini, dengan potensi memicu kebakaran yang merusak.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa pada tahun 2025, Indonesia diproyeksikan menghasilkan 144 ribu ton sampah per hari. Mirisnya, hanya sekitar 25% dari jumlah tersebut yang tercatat dikelola dengan baik. Kesenjangan ini menciptakan ladang subur bagi pembentukan emisi metana yang signifikan di berbagai wilayah, memperparah krisis iklim global.
Menyikapi urgensi ini, WRI Indonesia meluncurkan inisiatif revolusioner bernama SMART Waste Indonesia (Strengthening Methane Action through Reliable Tracking in Waste Sector). Proyek yang didukung oleh Global Methane Hub ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas pengukuran, pemantauan, verifikasi, dan pelaporan (MRV) emisi metana di sektor persampahan. Inisiatif ini menandai langkah maju dalam upaya mitigasi perubahan iklim di Tanah Air.
Riset komprehensif telah dilakukan sejak September 2024 hingga Agustus 2026, melibatkan survei karakteristik sampah di lima TPA representatif di Indonesia: Solok, Surabaya, Balikpapan, Mataram, dan Gorontalo. Hasil survei awal tahun 2025 mengungkapkan bahwa sampah organik menyumbang 52,02% dari total timbunan, diikuti oleh kertas sebesar 12,83%. Kedua jenis sampah ini adalah produsen metana utama ketika terurai dalam kondisi minim oksigen.
Tidak berhenti pada metode konvensional, proyek SMART Waste Indonesia juga memanfaatkan teknologi mutakhir. Pemantauan emisi metana dilakukan menggunakan pesawat nirawak (drone) yang dilengkapi sensor canggih di TPA Benowo Surabaya dan TPA Galuga Bogor. Pendekatan inovatif ini mendapatkan apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup. “Metode yang dilakukan pada proyek SMART ini melengkapi dengan apa yang sudah dilakukan selama ini secara nasional pada pendekatan perhitungan yang dilakukan,” ujar Andina Novita Tas’an, Perwakilan Direktorat Penanganan Sampah KLH.
Guna meningkatkan kualitas data persampahan nasional dalam SIPSN, proyek SMART Waste mengusulkan penggunaan metode Tier 2 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) untuk inventarisasi emisi. Metode ini jauh lebih presisi karena menggabungkan data komposisi sampah, aktivitas lokal, serta faktor emisi spesifik negara. Untuk mempermudah implementasinya, sebuah platform aplikasi bernama Methane Emission Toolbox (MET) turut dikembangkan, menjanjikan akurasi data yang lebih baik.
Haruki Agustina, Direktur Mitigasi Perubahan Iklim KLH, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong kontribusi sektor limbah untuk mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca nasional. “Inisiatif SMART Waste Indonesia, khususnya melalui penguatan metode pengukuran dan sistem MRV emisi metana, diharapkan dapat mendukung penyediaan data yang lebih akurat sebagai dasar perumusan kebijakan dan aksi mitigasi,” tuturnya.
Nirarta Samadhi, Country Director WRI Indonesia, menekankan bahwa penanganan emisi metana harus dimulai dari hulu, bukan hanya di hilir ketika sampah sudah menumpuk di TPA. “Upaya perlu dimulai dari pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber, pengalihan dan pengolahan sampah organik, hingga peningkatan pengelolaan TPA dan pemanfaatan gas metana,” jelasnya. Pemahaman akurat tentang profil sampah di setiap kota krusial untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran, sejalan dengan komitmen Global Methane Pledge Indonesia untuk memangkas emisi metana global hingga 30% pada tahun 2030.
Keberhasilan Indonesia dalam inisiatif ini juga mendapat pujian dari Global Methane Hub. Manjyot Ahluwalia, Regional Lead Asia Global Methane Hub, menilai Indonesia sebagai teladan bagi negara-negara di belahan bumi selatan. “Indonesia menunjukkan bahwa penanganan emisi metana sektor persampahan dapat dilakukan lewat monitoring yang transparan, pengelolaan berbasis data, dan kebijakan yang responsif terhadap iklim,” katanya. Dengan penerapan sistem MRV yang terintegrasi, investasi pengelolaan sampah dapat diarahkan secara efektif menuju visi jangka panjang Zero Waste Zero Emission (ZWZE) di Indonesia.

