Masyarakat di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali dikejutkan oleh guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,8 pada Kamis (20/8) pagi pukul 05.45 WIB. Gempa tektonik yang berpusat di darat ini memicu kepanikan luar biasa, terutama bagi warga di Kota Labuan Bajo yang berhamburan menyelamatkan diri ke luar rumah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa pusat gempa berada sekitar 34 kilometer arah timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan kedalaman dangkal 10 kilometer. Berdasarkan hasil pemodelan matematis BMKG, gempa ini dipastikan tidak berpotensi memicu gelombang tsunami. Kendati demikian, getarannya dirasakan cukup kuat di beberapa wilayah sekitar seperti Manggarai Barat, Nagekeo, hingga Sikka.
Kepanikan warga terekam jelas di kawasan permukiman Labuan Bajo. Salah seorang warga Lingkungan Lancang, Alfonsius Ardi (54), menceritakan ketegangannya saat guncangan terjadi. Menurutnya, getaran kuat membuat perabotan rumah tangga berjatuhan dari lemari. Khawatir bangunan roboh, ia beserta tetangganya langsung berlari ke area terbuka. Meski sudah sering merasakan gempa susulan akhir-akhir ini, kekuatan gempa kali ini dirasa jauh lebih menghentak.
Rentetan gempa ini merupakan bagian dari pelepasan energi pasca-gempa besar berkekuatan magnitudo 7,7 yang melanda kawasan tersebut pada 15 Agustus lalu. Data BMKG mencatat riwayat aktivitas seismik yang sangat tinggi pasca-gempa utama. Hingga Kamis pagi, tercatat ada 3.422 kali gempa susulan dengan rincian kekuatan bervariasi, mulai dari magnitudo terkecil 1,1 hingga yang terbesar mencapai magnitudo 6,2.
Kepala BMKG Wilayah NTT, Arief Tyastama, menjelaskan bahwa tren gempa susulan ini diperkirakan masih akan terus terjadi dalam jangka waktu tiga hingga empat minggu ke depan. Fenomena ini dinilai wajar karena merupakan proses alamiah kerak bumi untuk mencapai titik keseimbangan baru setelah pelepasan energi berskala besar.
“Fluktuasi kekuatan gempa cenderung menurun dan frekuensinya semakin jarang. Namun, masyarakat diimbau untuk tidak lengah karena gempa yang dirasakan masih berpotensi sesekali muncul,” terang Arief. Pihak BMKG juga meminta warga setempat untuk selalu waspada terhadap kondisi kelayakan bangunan mereka pasca-gempa dan tidak mudah memercayai kabar bohong (hoaks) yang beredar luas di media sosial.

