Pasca-gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), ratusan warga Kampung Golo terpaksa menjalani kenyataan pahit. Khawatir akan gempa susulan yang terus mengintai, sebanyak 459 jiwa memilih untuk mengungsi dan mendirikan tenda darurat di area pemakaman umum setempat. Pilihan ekstrem ini terpaksa diambil demi menghindari reruntuhan bangunan yang membahayakan nyawa mereka.
Hingga hari keempat setelah bencana, para pengungsi di Desa Nanga Labang ini dilaporkan belum menerima bantuan sosial yang memadai dari otoritas setempat. Mereka terpaksa bertahan hidup di tengah keterbatasan fasilitas sanitasi maupun logistik harian. Berdasarkan data yang dihimpun dari warga, guncangan hebat tersebut telah menghancurkan sedikitnya 6 rumah warga hingga rata dengan tanah, sementara 18 unit hunian lainnya mengalami kerusakan struktur yang cukup parah.
Kondisi di tempat pengungsian darurat ini kian memprihatinkan karena dihuni oleh kelompok rentan. Di antara ratusan warga yang tidur beralaskan seadanya di atas tanah kuburan, terdapat bayi berusia tiga bulan bersama ibunya, serta puluhan lansia yang menderita sakit. Tanpa adanya aliran listrik pada malam hari, suasana pengungsian menjadi gelap gulita, menambah trauma mendalam bagi anak-anak dan warga setempat yang masih dibayangi ketakutan akan gempa susulan.
Perwakilan warga setempat mengungkapkan bahwa kebutuhan mendesak yang sangat dinantikan saat ini adalah bahan pangan pokok seperti beras, mi instan, telur, serta susu khusus balita. Selain kebutuhan pangan, mereka juga memohon pasokan lampu bertenaga surya (solar charger) untuk penerangan malam hari serta terpal atau tenda layak pakai guna mengantisipasi cuaca buruk. Saat ini, warga hanya bisa pasrah sembari menanti kepedulian nyata dan uluran tangan dari pemerintah daerah.

