Site icon Media KotaKita

Keajaiban Gempa NTT: Nenek 84 Tahun Selamat Setelah 4 Hari Tertimbun Reruntuhan

Sebuah keajaiban nyata terjadi di tengah duka gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Paulina Pobi, seorang nenek berusia 84 tahun asal Desa Nitunglea, Pulau Palue, Kabupaten Sikka, berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat setelah sempat bertahan hidup selama empat hari di bawah timbunan reruntuhan rumahnya.

Penyelamatan dramatis ini dikonfirmasi oleh Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno. Paulina berhasil dievakuasi oleh warga setempat yang bergotong-royong membersihkan puing-puing bangunan. Usai dievakuasi, lansia tersebut langsung dilarikan ke Puskesmas terdekat guna mendapatkan perawatan medis intensif. Pihak kepolisian memastikan kondisi fisik korban berangsur stabil meski sempat terjebak dalam waktu yang sangat lama tanpa asupan makanan dan minuman memadai.

Upaya penyelamatan dan penyaluran bantuan ke Desa Nitunglea memang sempat menghadapi kendala besar. Pascapeluluhan gempa dahsyat di Pulau Flores tersebut, wilayah tempat tinggal Paulina sempat terisolasi total akibat longsor. Akses jalan utama tertutup material batu-batu besar dan pohon tumbang. Akibatnya, tim penyelamat dan warga harus menempuh perjalanan darat dengan berjalan kaki selama kurang lebih tiga jam dari dermaga terdekat demi mencapai desa tersebut.

Di sisi lain, penanganan pascabencana kini mulai bergeser pada pemulihan kondisi psikologis para korban. Kapolda NTT, Irjen Pol. Rudi Darmoko, menekankan pentingnya program trauma healing bagi para pengungsi, khususnya anak-anak. Menurutnya, dampak psikologis akibat guncangan bencana besar seringkali tidak terlihat namun memiliki efek jangka panjang yang berbahaya bagi kesehatan mental penyintas.

Guna merealisasikan hal tersebut, Kapolda NTT bersama Ketua Bhayangkari NTT, Vily Darmoko, mengunjungi langsung titik pengungsian utama di Lapangan Gelora Samador. Lokasi ini menampung sedikitnya 1.207 warga yang kehilangan tempat tinggal. Selain mendistribusikan logistik, kehadiran mereka juga difokuskan untuk memberikan dukungan moral dan layanan pemulihan trauma agar para pengungsi, terutama anak-anak, dapat segera bangkit dari bayang-bayang ketakutan pascagempa.

Exit mobile version