MANGGARAI TIMUR — Wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, diselimuti duka mendalam pascadiguncang gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7. Dari sekian banyak daerah yang terdampak, Kabupaten Manggarai Timur mencatatkan kerusakan paling parah dengan jumlah korban jiwa yang terus bertambah.
Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) serta BPBD setempat, tercatat sedikitnya 187 warga menjadi korban dalam musibah ini. Sebanyak 55 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 132 lainnya mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis secara intensif.
Merespons situasi darurat tersebut, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian terjun langsung meninjau Posko Pengungsian di Desa Ronting, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan seluruh penanganan tanggap darurat dan proses evakuasi berjalan secara optimal.
Di hadapan para pengungsi, Kabasarnas memberikan dukungan moral dan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Langkah antisipasi sangat diperlukan mengingat potensi terjadinya gempa susulan yang bisa membahayakan keselamatan warga.
“Kami meminta warga untuk tidak mendekati bangunan yang kondisinya rapuh atau berisiko roboh. Dalam situasi krisis seperti sekarang, sinergi yang kuat antara pemerintah, tim SAR, dan masyarakat menjadi kunci utama percepatan penanggulangan bencana,” ujar Syafii.
Guna memaksimalkan proses pencarian dan pertolongan, operasi SAR dikerahkan secara nonstop selama 24 jam. Pada hari ketiga pascagempa, Basarnas telah menerjunkan ratusan personel yang tersebar di titik-titik krusial, seperti Nagekeo, Ende, Sikka, Manggarai Barat, hingga wilayah Reo.
Operasi penyelamatan ini turut didukung oleh fasilitas pemantauan udara menggunakan helikopter HR 3604 serta alutsista laut KN SAR 250. Secara keseluruhan, ada lebih dari 700 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD, BMKG, PMI, hingga sukarelawan daerah yang dikerahkan untuk menyisir kawasan terdampak.
Tim gabungan terus memfokuskan tindakan pada pencarian korban yang mungkin masih tertimbun reruntuhan, mendistribusikan bantuan logistik, serta memastikan kelayakan posko-posko pengungsian bagi masyarakat terdampak.

