Masyarakat di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali dikejutkan oleh aktivitas seismik yang cukup intens. Pada Senin pagi, dua gempa tektonik beruntun mengguncang dua kabupaten berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa guncangan ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami, namun warga diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.
Gempa pertama dengan kekuatan magnitudo 5,0 dilaporkan mengguncang wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai. Selang beberapa saat, guncangan kedua yang lebih besar dengan kekuatan magnitudo 5,8 berpusat di timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. BMKG mencatat gempa tersebut terjadi pada pukul 07.46 WIB dengan kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer, menyebabkan getaran dirasakan cukup luas di daratan Flores.
Berdasarkan skala intensitas yang dirilis BMKG, getaran dirasakan cukup kuat pada skala III-IV MMI di wilayah Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada. Sementara di Kabupaten Nagekeo, Ende, dan Sumba Timur, guncangan dirasakan pada skala III MMI, di mana benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan getaran terasa nyata di dalam rumah.
Kepala BMKG Wilayah NTT, Arief Tyastama, menjelaskan bahwa rangkaian lindu ini merupakan gempa susulan (aftershock) yang wajar terjadi. Gempa-gempa ini merupakan bagian dari proses penyesuaian patahan batuan pasca-gempa utama (mainshock) berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores beberapa hari sebelumnya.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak panik namun tetap waspada. Sangat penting untuk tidak mempercayai informasi hoaks yang kerap beredar setelah bencana. Pastikan selalu memantau kanal resmi BMKG dan BPBD,” ujar Arief.
Meskipun tidak memicu tsunami, potensi bahaya sekunder seperti runtuhnya material bangunan akibat guncangan berulang tetap harus diwaspadai. BMKG menyarankan warga untuk segera memeriksa kondisi struktur rumah masing-masing. Jika terdapat keretakan baru yang cukup parah, warga dianjurkan untuk menghindari bangunan tersebut sementara waktu guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Hingga saat ini, otoritas setempat masih melakukan pendataan di lapangan, dan belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur yang signifikan akibat aktivitas seismik beruntun ini.

