Jakarta – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) menunjukkan komitmen penuh dalam penanganan pascabencana gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain memastikan kelancaran logistik utama, TNI AD di bawah komando Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak kini berfokus pada penyediaan kebutuhan esensial yang kerap luput dari perhatian, mulai dari perangkat komunikasi satelit Starlink hingga peralatan sanitasi.
Jenderal Maruli mengungkapkan bahwa koordinasi lintas sektor antara kementerian dan berbagai matra TNI telah berjalan dengan baik dalam menyalurkan bantuan logistik dasar. Namun, guna memastikan proses pemulihan berjalan efektif, TNI AD mengambil inisiatif untuk mengisi celah kebutuhan teknis di lapangan yang sangat krusial bagi warga terdampak.
‘Bantuan logistik dari berbagai instansi sudah mulai tiba di lokasi bencana. Kini, fokus Angkatan Darat adalah memastikan aspek komunikasi dan kebutuhan sanitasi warga terpenuhi. Kami mengirimkan perangkat Starlink agar jaringan komunikasi tidak terputus, serta menyiapkan toren air, cangkul, dan sekop untuk membantu proses pembersihan puing-puing,’ ujar Maruli saat memberikan keterangan di halaman Istana Merdeka, Jakarta Pusat.
Lebih lanjut, Jenderal Maruli menegaskan bahwa jumlah personel TNI AD yang dikerahkan di lokasi bencana saat ini masih dinilai mencukupi untuk menangani situasi darurat. Kendati demikian, pihak TNI AD terus memantau perkembangan di lapangan secara dinamis demi menentukan apakah diperlukan penambahan pasukan bantuan di kemudian hari.
Bencana gempa bumi berkekuatan merusak yang mengguncang NTT pada Sabtu lalu telah menyisakan duka mendalam. Hingga rilis terbaru, tercatat sedikitnya 54 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara ratusan warga lainnya mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis secara intensif.
Tim Search and Rescue (SAR) gabungan saat ini masih terus berjibaku melakukan proses evakuasi dan pencarian korban di beberapa titik terparah, termasuk kawasan Kota Mbay dan Reo di Kabupaten Manggarai. Gempa ini juga memicu dampak sekunder berupa gelombang pasang di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, yang sempat merendam pemukiman warga sebelum akhirnya berangsur kondusif.

