Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk tetap waspada pasca-gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut analisis terbaru, aktivitas gempa susulan yang dipicu oleh pergerakan aktif Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust) diperkirakan masih akan terus berlangsung dalam dua hingga tiga pekan ke depan sebelum energinya meluruh secara alami.
Hingga Sabtu siang pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat setidaknya telah terjadi 235 gempa susulan. Rentetan gempa tersebut tersebar di wilayah utara Pulau Flores dengan kekuatan yang bervariasi, mulai dari magnitudo minor M2,5 hingga guncangan yang cukup kuat mencapai M6,2. Grafik pemantauan menunjukkan bahwa tren penurunan aktivitas seismik di wilayah tersebut saat ini belum menunjukkan fase peluruhan yang signifikan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa proses stabilisasi patahan aktif ini memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Berdasarkan pola historis bencana serupa, seperti gempa merusak yang pernah terjadi di Maluku Utara, pemulihan kondisi tektonik hingga kembali normal biasanya memakan waktu sekitar 14 hingga 21 hari. Pihak BMKG berkomitmen untuk terus memantau pergerakan sesar ini secara waktu nyata (real-time).
Lebih lanjut, Faisal menerangkan bahwa gempa utama bermagnitudo 7,7 merupakan jenis gempa bumi dangkal dengan kedalaman pusat gempa hanya 15 kilometer. Karakteristik kedangkalan inilah yang memicu kerusakan infrastruktur dan bangunan yang cukup masif di daratan Flores. Struktur patahan ini memang dikenal memiliki rekam jejak aktivitas seismik yang tinggi, salah satunya adalah gempa dahsyat M7,8 yang pernah mengguncang wilayah yang sama pada tahun 1992.
Selain guncangan hebat, gempa dangkal kali ini juga sempat memicu gelombang tsunami minor yang terdeteksi di beberapa stasiun pemantau pasang surut air laut (tide gauge). Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di kawasan Reo Manggarai dan Manggarai Timur dengan tinggi gelombang mencapai 1,61 meter. Sementara itu, wilayah Maurole di Ende mendeteksi gelombang setinggi 0,94 meter, serta Bulukumba dan Sape mencatat kenaikan air laut di atas 0,5 meter. Seluruh status peringatan dini tsunami kini telah resmi diakhiri setelah kondisi perairan dipastikan kembali aman dan stabil.

