Wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali diguncang gempa bumi tektonik pada Minggu pagi (16/8). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa susulan berkekuatan magnitudo 5,2 ini terjadi sekitar pukul 06.12 WIB. Berdasarkan analisis kedalaman, gempa ini merupakan gempa dangkal yang bersumber di laut, namun dipastikan tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
Pusat gempa terdeteksi berada di koordinat 7,87 Lintang Selatan dan 120,64 Bujur Timur, tepatnya di 84 kilometer arah timur laut Ruteng, dengan kedalaman pusat gempa mencapai 10 kilometer. Peristiwa ini menambah rentetan aktivitas seismik yang melanda kawasan NTT belakangan ini, menyusul gempa utama berkekuatan M 7,7 yang sempat mengguncang bagian utara Pulau Flores sebelumnya.
Potensi Gempa Susulan Masih Berlanjut
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa aktivitas gempa susulan akibat pergerakan Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back Arc Thrust) ini diproyeksikan masih akan berlangsung dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Hingga Sabtu (15/8) siang saja, BMKG setidaknya telah mencatat sebanyak 235 kali gempa susulan dengan kekuatan bervariasi mulai dari M 2,5 hingga M 6,2.
“Kami mengestimasi proses peluruhan energi secara alami ini membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu. Karakteristik ini serupa dengan pola rekaman seismik dari gempa bumi merusak yang pernah terjadi di Maluku Utara,” ujar Faisal dalam keterangan resminya.
Rekam Jejak Sesar Naik Flores yang Historis
Sesar Naik Flores dikenal sebagai salah satu struktur geologi aktif yang memiliki sejarah panjang dalam memicu gempa bumi destruktif di wilayah Nusa Tenggara. BMKG mencatat bahwa sesar aktif ini juga pernah memicu gempa dahsyat berkekuatan M 7,8 pada tahun 1992 silam, yang memicu tsunami besar dan kerusakan parah di wilayah Flores.
Mengingat proses stabilisasi lempeng pascagempa utama membutuhkan waktu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada namun tidak panik. Warga diharapkan menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa, serta selalu memantau perkembangan informasi resmi terkini langsung dari kanal komunikasi BMKG untuk menghindari isu-isu hoaks yang tidak bertanggung jawab.

