Pasca guncangan gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,7 yang berpusat di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), kondisi masyarakat di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, berangsur pulih. Sebagian besar warga pesisir yang sempat menyelematkan diri kini mulai berani kembali ke rumah masing-masing setelah situasi dinyatakan relatif kondusif.
Kendati ancaman utama telah berlalu, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Selayar, Ahmad Aliefyanto, mengonfirmasi bahwa masih ada sekelompok warga Desa Bonea, Kecamatan Pasimarannu, yang memilih untuk bertahan di area perbukitan. Langkah ini diambil secara mandiri oleh warga sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi bahaya susulan.
Guncangan gempa sebelumnya sempat memicu fenomena air laut surut secara mendadak sebelum akhirnya meluap ke pemukiman. Air laut membasahi kawasan pesisir Desa Bonea dan sempat merendam setidaknya 16 unit rumah warga dengan ketinggian genangan mencapai 50 sentimeter. Keberadaan struktur tanggul pemecah ombak di sebagian wilayah desa cukup membantu meredam dampak terjangan air.
Kapolsek Pasimarannu, Iptu Yudi Wibowo, memastikan bahwa air pasang telah surut sepenuhnya dan situasi di lapangan sudah terkendali. Berdasarkan hasil penyisiran tim gabungan, tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun warga yang mengalami luka-luka akibat peristiwa tersebut.
Aparat kepolisian bersama pemerintah kecamatan terus meningkatkan patroli di sepanjang garis pantai untuk memantau dinamika air laut. Mengingat masih ada beberapa area dusun yang belum terlindungi fasilitas pemecah gelombang, pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap bersikap tenang, memperbarui informasi dari sumber resmi BPBD atau BMKG, serta selalu siap siaga menghadapi kemungkinan potensi gempa susulan.

