NUSA TENGGARA TIMUR — Tentara Nasional Indonesia (TNI) bergerak cepat merespons bencana gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Guna mempercepat penanganan darurat dan penyaluran logistik, alutsista strategis berupa pesawat angkut berat C-130 Hercules dan Kapal Republik Indonesia (KRI) resmi dikerahkan ke lokasi terdampak.
Langkah sigap ini diambil guna memastikan masyarakat di wilayah terisolasi mendapatkan bantuan medis serta bahan pangan secara instan. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas, mengonfirmasi bahwa pengerahan armada militer tersebut bertujuan memperlancar mobilisasi personel, evakuasi warga, serta distribusi logistik secara terpadu.
“TNI menerjunkan armada Hercules dan KRI demi menyokong operasi kemanusiaan serta mendistribusikan kebutuhan darurat bagi para korban selamat secara optimal,” tegas Mayjen TNI Muhammad Nas dalam keterangan resminya.
Selain armada udara dan laut, ratusan prajurit teritorial dari Kodim 1603/Sikka, Kodim 1612/Manggarai, Kodim 1602/Ende, Yonif Teritorial Pembangunan 834/WM, serta Lanal Maumere telah disiagakan di lapangan. Para prajurit berfokus pada pendirian fasilitas darurat, penyisiran puing bangunan, hingga pertolongan pertama bagi korban yang terluka.
Dampak Gempa dan Update Data Korban
Berdasarkan pemutakhiran data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), guncangan kuat ini telah mengakibatkan setidaknya 14 warga meninggal dunia. Sebaran korban jiwa teridentifikasi berada di Kabupaten Sikka sebanyak tiga orang, Kabupaten Manggarai enam orang, dan Kabupaten Manggarai Timur sebanyak lima orang.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyampaikan bahwa belasan warga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Selain itu, sekitar 2.000 penduduk terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi guna mengantisipasi gempa susulan maupun dinamika gelombang di wilayah pesisir.
Sinergi lintas instansi antara TNI, BNPB, BPBD, Basarnas, dan Polri terus diperketat di lapangan. Pendataan menyeluruh masih dilakukan secara berkala seiring tim penyelamat menjangkau daerah-daerah yang terpelosok.

